Penyakit Kawasaki. Bagi sebagian orang tua, nama ini mungkin masih asing. Namun bagi dr. Najib Advani, sosok yang dijuluki "Bapak Kawasaki Indonesia", ini adalah perjuangan puluhan tahun. Penyakit ini adalah peradangan pembuluh darah sistemik yang menyerang anak-anak usia dini, dan ancaman terbesarnya adalah jantung.
Pertama kali dilaporkan di Jepang pada 1967 oleh Tomisaku Kawasaki, penyakit ini dampaknya tak main-main. Ia bisa merusak arteri koroner, pembuluh vital yang bertugas menyuplai darah ke jantung. "Kalau tidak diobati, sekitar 15–25 persen anak bisa mengalami aneurisma arteri koroner," tegas dr. Najib dalam sebuah diskusi daring, Selasa lalu.
Ia melanjutkan, "Ini pelebaran pembuluh darah jantung yang berbahaya. Dengan pengobatan, risiko itu bisa turun drastis hanya sekitar 2–3 persen."
Nah, di sinilah masalahnya. Penyebab pasti penyakit ini masih jadi misteri. Dr. Najib menduga ada kaitannya dengan agen infeksi semacam virus atau bakteri, yang memicu peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Tapi, tidak semua anak yang kena infeksi bakal kena Kawasaki. Faktor genetik diduga ikut bermain, menentukan kerentanan dan tingkat keparahannya.
"Saya pernah tanya langsung kepada Prof. Tomisaku Kawasaki mengenai penyebabnya," kenang dr. Najib. "Jawabannya sederhana, 'I don’t know'. Artinya hingga sekarang memang belum ada kepastian."
Secara global, kasusnya ternyata tidak bisa dibilang sedikit. Sudah lebih dari satu juta kasus tercatat di dunia. Di Indonesia? Dr. Najib memperkirakan ada 3.000 hingga 4.000 kasus baru tiap tahun. Tapi yang berhasil terdiagnosis cuma sekitar 200-an kasus. Selama lebih dari 25 tahun ia mensosialisasikan penyakit ini, sudah lebih dari 2.000 pasien yang ditanganinya dari berbagai penjuru negeri.
"Jadi kalau disebut penyakit langka, sebenarnya tidak juga," ungkapnya. "Masalahnya lebih pada keterlambatan diagnosis."
Mengapa sulit didiagnosis? Gejalanya seringkali mirip dengan penyakit lain yang lebih umum. Seperti campak, demam berdarah, atau infeksi tenggorokan. Cirinya bisa bermacam-macam: demam tinggi yang berkepanjangan, mata merah tanpa kotoran, bibir pecah-pecah, ruam kulit, hingga bekas suntikan BCG yang tiba-tiba memerah lagi. Yang bikin pusing, tidak semua gejala ini muncul bersamaan.
Artikel Terkait
Menteri Riefky Sebut Ekonomi Kreatif sebagai Tambang Baru Penggerak Ekonomi
Teras Balongan Jadi Pusat Oleh-Oleh Khas Pesisir untuk Pemudik Indramayu
Mulai Berlaku, Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Buka Media Sosial
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama dan Stabilitas dengan Pejabat Kuasa Usaha AS