"Karena itu, setiap anak dengan demam berkepanjangan harus dipertimbangkan kemungkinan Kawasaki," jelasnya.
Bahayanya nyata. Kerusakan pada arteri koroner bisa berkembang jadi aneurisma, penyempitan pembuluh darah, gangguan irama jantung, bahkan serangan jantung di usia muda. Riset menyebut, sekitar lima persen penyakit jantung koroner pada orang dewasa muda ada kaitannya dengan Kawasaki yang tak terdiagnosis di masa kecil.
Penanganannya butuh kecepatan. Terapi utamanya adalah pemberian imunoglobulin intravena (IVIG) ditambah aspirin. Sayangnya, biayanya selangit. Bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah per pasien, dan belum sepenuhnya ditanggung sistem pembiayaan kesehatan kita. Untuk kasus berat, bisa berujung pada kateterisasi, pemasangan stent, atau operasi bypass di luar negeri.
"Masa depan anak dengan Kawasaki sangat bergantung pada derajat kerusakan koroner. Karena itu, jangan sampai terlambat," tegas dr. Najib.
Tak hanya berjuang di klinik, ia juga menggagas yayasan untuk para penyintas. Tujuannya memberi dukungan edukasi, psikologis, dan bantuan pendanaan. Baginya, kunci menekan angka kematian dan kecacatan cuma satu: meningkatkan kewaspadaan, baik di kalangan masyarakat maupun tenaga kesehatan.
"Intinya satu, jangan sampai terlambat," ucapnya. "Banyak anak sebenarnya sudah ke dokter, tetapi penyakitnya belum dikenali."
Pada akhirnya, dengan diagnosis yang cepat dan terapi yang tepat, mayoritas anak bisa sembuh dan hidup normal. "Dengan imunoglobulin dan aspirin yang diberikan tepat waktu, sebagian besar anak bisa sembuh," pungkas dr. Najib. Masa depan mereka, memang, sangat ditentukan oleh kondisi arteri koroner yang berhasil diselamatkan.
Artikel Terkait
Menteri Riefky Sebut Ekonomi Kreatif sebagai Tambang Baru Penggerak Ekonomi
Teras Balongan Jadi Pusat Oleh-Oleh Khas Pesisir untuk Pemudik Indramayu
Mulai Berlaku, Anak di Bawah 16 Tahun Dilarang Buka Media Sosial
Gubernur Sulsel Bahas Kerja Sama dan Stabilitas dengan Pejabat Kuasa Usaha AS