NU di Persimpangan Jalan: Tantangan Politik, Digital, dan Ekonomi di Abad Kedua

- Selasa, 10 Februari 2026 | 15:00 WIB
NU di Persimpangan Jalan: Tantangan Politik, Digital, dan Ekonomi di Abad Kedua

Bersamaan dengan itu, format dakwah juga perlu diperbarui. Jika sebelumnya banyak mengandalkan panggung dan seremonial, dakwah di abad baru harus lebih fokus pada pemberdayaan, edukasi yang mencerahkan, dan solusi atas masalah riil masyarakat. Pelestarian tradisi tetap penting, namun perlu diimbangi dengan pendekatan yang menyentuh peningkatan kualitas hidup.

Penguatan Ekonomi dan Jaring Pengaman Sosial

Di tingkat akar rumput, struktur ekonomi warga nahdliyin yang masih lemah membuat komunitas rentan terhadap polarisasi. Kemandirian ekonomi melalui digitalisasi UMKM bukan lagi wacana, melainkan sebuah keharusan. Tanpa itu, simbol kultural seperti “sarung” berisiko tertinggal oleh laju zaman.

Isu kesehatan dan jejaring pengaman sosial juga mendesak untuk menjadi prioritas. Membangun akses layanan kesehatan yang merata, misalnya dengan mendirikan klinik di tingkat kecamatan, serta mengawal program-program jaminan sosial bagi warga miskin, adalah langkah konkret yang dinantikan.

Menjembatani Wacana dan Realita

Wacana besar seperti Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban pun tidak boleh melambung tinggi tanpa implementasi nyata. Konsep-konsep tersebut perlu dikontekstualisasikan dan diterjemahkan ke dalam program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga di akar rumput.

Memasuki milenium kedua, NU diuji untuk menjadi pelayan umat yang menjawab persoalan duniawi politik, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan tanpa mengabaikan aspek ukhrawi. Kaidah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik) harus diwujudkan dalam keseimbangan yang nyata antara memelihara warisan dan merangkul kemajuan.

Dengan demikian, keberanian untuk berinovasi, beradaptasi, dan fokus pada pemberdayaan umat akan menentukan peran NU ke depan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan beradab.

Wallahu’alam bishawab.

KH Imam Jazuli Lc., MA.
Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Universitas Al-Azhar, Mesir (Dept. Theology and Philosophy); Universiti Kebangsaan Malaysia (Dept. Politic and Strategy); Universiti Malaya (Dept. International Strategic and Defence Studies); Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah; Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar