NU di Persimpangan Jalan: Tantangan Politik, Digital, dan Ekonomi di Abad Kedua

- Selasa, 10 Februari 2026 | 15:00 WIB
NU di Persimpangan Jalan: Tantangan Politik, Digital, dan Ekonomi di Abad Kedua

MURIANETWORK.COM - Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia, memasuki abad kedua perjalanannya dengan sejumlah tantangan mendesak. Setelah satu abad membuktikan diri sebagai penjaga tradisi Islam Nusantara yang ramah, NU kini berada di persimpangan jalan. Organisasi ini dituntut untuk beradaptasi dengan percepatan zaman mulai dari dinamika politik, disrupsi digital, hingga kebutuhan pemberdayaan ekonomi umat tanpa kehilangan jati diri kulturalnya yang kokoh.

Dinamika Politik dan Ujian Khittah

Di ranah politik, NU berada pada titik kritis yang memerlukan refleksi mendalam. Relasi antara PBNU dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang secara historis merupakan anak kandung pergerakan NU, sering kali diwarnai ketegangan. Alih-alih menjadi alat perjuangan politik yang solid untuk warga nahdliyin, hubungan ini acap kali terjebak dalam konflik elit dan saling delegitimasi, terutama dalam atmosfer elektoral.

Atas nama Khittah 1926, sebagian elit PBNU menafsirkannya secara sempit, membiarkan PKB berjalan tertatih. Sementara itu, PKB yang merasa mandiri kerap lebih menonjolkan kepentingan elektoral ketimbang perjuangan politik substansial bagi umat.

“NU perlu kembali pada khittah sebagai pengawal moral, tetapi tidak perlu antipati pada PKB yang didirikan para masayikh NU untuk menjadi wadah aspirasi warganya,” ujar KH Imam Jazuli Lc., MA., mantan pengurus PBNU.

Merangkul Gelombang Digital

Tantangan lain yang tak kalah mendesak adalah kesenjangan digital. Di era di mana dakwah berpindah ke layar gawai, narasi moderasi kerap kalah cepat dan menarik dibanding konten-konten ekstrem. Umat, khususnya generasi muda, membutuhkan bimbingan agama yang instan namun mendalam sebuah kebutuhan yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh metode dakwah konvensional.

Oleh karena itu, NU dituntut proaktif memanfaatkan teknologi. Penguatan literasi digital di kalangan nahdliyin dan pengembangan konten kreatif yang menawarkan nilai-nilai Aswaja menjadi sebuah keharusan. Secara keilmuan, diperlukan lahirnya ulama-ulama yang tidak hanya mahir dalam bahtsul masail klasik, tetapi juga cakap menjawab persoalan kontemporer di dunia maya.

Membangun SDM dan Format Dakwah yang Relevan

Untuk bersaing secara global, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) menjadi krusial. Hal ini mencakup revitalisasi kurikulum pendidikan di pesantren dan lembaga di bawah LP Ma’arif NU, dengan memadukan penguasaan ilmu agama, literasi digital, sains, dan kewirausahaan.

Bersamaan dengan itu, format dakwah juga perlu diperbarui. Jika sebelumnya banyak mengandalkan panggung dan seremonial, dakwah di abad baru harus lebih fokus pada pemberdayaan, edukasi yang mencerahkan, dan solusi atas masalah riil masyarakat. Pelestarian tradisi tetap penting, namun perlu diimbangi dengan pendekatan yang menyentuh peningkatan kualitas hidup.

Penguatan Ekonomi dan Jaring Pengaman Sosial

Di tingkat akar rumput, struktur ekonomi warga nahdliyin yang masih lemah membuat komunitas rentan terhadap polarisasi. Kemandirian ekonomi melalui digitalisasi UMKM bukan lagi wacana, melainkan sebuah keharusan. Tanpa itu, simbol kultural seperti “sarung” berisiko tertinggal oleh laju zaman.

Isu kesehatan dan jejaring pengaman sosial juga mendesak untuk menjadi prioritas. Membangun akses layanan kesehatan yang merata, misalnya dengan mendirikan klinik di tingkat kecamatan, serta mengawal program-program jaminan sosial bagi warga miskin, adalah langkah konkret yang dinantikan.

Menjembatani Wacana dan Realita

Wacana besar seperti Islam Nusantara dan Fiqih Peradaban pun tidak boleh melambung tinggi tanpa implementasi nyata. Konsep-konsep tersebut perlu dikontekstualisasikan dan diterjemahkan ke dalam program-program yang benar-benar menyentuh kebutuhan dasar warga di akar rumput.

Memasuki milenium kedua, NU diuji untuk menjadi pelayan umat yang menjawab persoalan duniawi politik, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan tanpa mengabaikan aspek ukhrawi. Kaidah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik) harus diwujudkan dalam keseimbangan yang nyata antara memelihara warisan dan merangkul kemajuan.

Dengan demikian, keberanian untuk berinovasi, beradaptasi, dan fokus pada pemberdayaan umat akan menentukan peran NU ke depan dalam mewujudkan masyarakat yang adil dan beradab.

Wallahu’alam bishawab.

KH Imam Jazuli Lc., MA.
Alumni Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Universitas Al-Azhar, Mesir (Dept. Theology and Philosophy); Universiti Kebangsaan Malaysia (Dept. Politic and Strategy); Universiti Malaya (Dept. International Strategic and Defence Studies); Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah; Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Periode 2010-2015.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar