"Kami menghendaki, dan ingin bisa dua-duanya," jelas Pras.
KTT yang Masih Diselimuti Ketidakpastian
Di sisi lain, meski rencana penyelenggaraan KTT BoP telah beredar, situasinya masih belum sepenuhnya jelas. Kantor Kepresidenan AS atau Gedung Putih disebut berencana menggelar pertemuan puncak perdana itu pada pekan depan. Sejumlah pemimpin negara anggota pun telah dihubungi untuk diundang.
Namun, berdasarkan informasi dari seorang sumber pejabat pemerintahan AS yang dikutip dari kantor berita Turki, Anadolu, hingga Sabtu (7/2) lalu, belum ada satu pun pemimpin negara yang mengonfirmasi kehadiran mereka. Yang patut dicatat, Gedung Putih sendiri hingga berita ini diturunkan juga belum mengeluarkan pengumuman resmi terkait penyelenggaraan KTT tersebut.
Posisi Indonesia dalam Board of Peace
Keikutsertaan Indonesia dalam forum ini bukanlah hal baru. Indonesia secara resmi telah menjadi anggota BoP setelah Presiden Prabowo Subianto menandatangani piagam pembentukannya. Penandatanganan bersejarah itu berlangsung dalam acara peluncuran di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026 silam.
Selain Indonesia dan Amerika Serikat sebagai penggagas, sejumlah negara lain juga turut menandatangani piagam yang sama. Daftar anggotanya cukup beragam, mencakup Hungaria, Bahrain, Maroko, Argentina, Armenia, Azerbaijan, Belgia, Bulgaria, Mesir, Yordania, Kazakhstan, Republik Kosovo, Mongolia, Pakistan, Paraguay, Qatar, Arab Saudi, Turki, Uni Emirat Arab (UAE), dan Uzbekistan.
Artikel Terkait
Timnas Indonesia Tuntaskan Laga dengan Kemenangan 4-0, Herdman Soroti Disiplin Awal
Prabowo Antar Langsung PM Anwar hingga ke Halim, Akhiri Kunjungan dengan Kehangatan
BPJS Ketenagakerjaan: Dana JHT Bisa Dicairkan Sebelum Pensiun dalam Kondisi Tertentu
Ombudsman Beri Tujuh Rekomendasi Perbaikan Layanan Arus Balik di Pelabuhan Tanjung Kalian