Di Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, suasana di Pondok Pesantren Abdussalam tampak berbeda. Menteri Koperasi Ferry Juliantono hadir untuk meresmikan Toko Rakyat Serba Ada atau TORASERA. Peresmian ini bukan sekadar acara seremonial belaka. Menurut Ferry, kehadiran toko ini adalah langkah nyata pemerintah untuk mempermudah akses masyarakat terhadap barang kebutuhan pokok sekaligus menguatkan usaha rakyat yang berbasis koperasi.
“TORASERA bukan sekadar toko ritel,” tegas Ferry dalam keterangan tertulisnya, Senin (9/2/2026).
“Ia dirancang sebagai pusat distribusi, agregator, sekaligus hub ekonomi rakyat.”
Dalam sambutannya, Ferry menegaskan toko ini adalah bagian dari upaya membangun ekosistem koperasi yang kuat dan berkelanjutan. Caranya? Melalui kolaborasi dengan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih. Skemanya cukup menarik: koperasi pesantren akan bertindak sebagai mitra sekaligus ‘kakak asuh’ bagi koperasi desa. Perannya mencakup penguatan manajemen, model bisnis, hingga operasional usaha sehari-hari.
“Melalui kolaborasi ini, kita ingin memastikan koperasi mampu membuka lapangan kerja, memperluas pasar produk lokal, dan memanfaatkan teknologi,” ujarnya. Manfaatnya, kata dia, harus langsung terasa dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Acara itu sendiri dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Mulai dari Deputi Bidang Pengembangan Usaha Koperasi Kemenkop Panel Barus, Pengasuh Pesantren Abdussalam Hifni Hafiluddin Muhammad Yusuf, hingga Gubernur Kalbar Ria Norsan. Anggota DPR RI Komisi V Juliansyah dan Bupati Kubu Raya Sujiwo juga tak absen, bersama Direktur Perekonomian Ponpes Abdussalam Anas Al Hifni serta jajaran pejabat kementerian.
Ferry menyebut, pengembangan TORASERA ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Misinya adalah mengembalikan koperasi sebagai sokoguru perekonomian nasional, sesuai amanat Pasal 33 UUD 1945. Pemerintah kini, kata dia, hadir lebih kuat untuk mengatur arah ekonomi dengan menempatkan koperasi sebagai instrumen utama.
Namun begitu, jalan yang ditempuh masih panjang. Sebagai strategi nasional, pemerintah menargetkan pembentukan 83.000 Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia. Tantangan terbesarnya? Menurut Ferry, ada pada tahap operasionalisasi. Bagaimana membuat koperasi ini benar-benar menjadi entitas bisnis yang sehat dan menguntungkan. Karena itulah, TORASERA di Kubu Raya ini diproyeksikan menjadi model percontohan yang nantinya bisa direplikasi di daerah lain.
“Kita akan susun ini sebagai model bisnis dan pedoman operasional,” jelas Ferry.
“Fungsinya tidak hanya menjual kebutuhan pokok, tetapi juga menjadi offtaker produk petani, nelayan, dan UMKM. Sekaligus menyalurkan program pemerintah agar lebih tepat sasaran.”
Di sisi lain, Ferry menekankan pentingnya keberpihakan pemerintah daerah. Kebijakan tata kelola distribusi dan ritel, misalnya, harus mendukung agar manfaat ekonomi koperasi desa benar-benar kembali ke masyarakat, bukan terserap ke pemegang saham besar.
Artikel Terkait
BPBD Aceh Besar Larang Bakar Sampah dan Lahan di Tengah Suhu Mencapai 34 Derajat
TransJakarta Kirim 20 Pramudi Terbaik untuk Pelatihan di Jepang
Prabowo Antar Langsung Anwar Ibrahim ke Halim, Tunjukkan Keakraban di Luar Protokoler
Timnas Indonesia Tuntaskan Laga dengan Kemenangan 4-0, Herdman Soroti Disiplin Awal