Helikopter Turunkan Bantuan, Harapan dari Langit untuk Korban Banjir Sumatra Barat

- Senin, 01 Desember 2025 | 20:30 WIB
Helikopter Turunkan Bantuan, Harapan dari Langit untuk Korban Banjir Sumatra Barat

Kabut masih menyelimuti perbukitan, tapi langit Sumatra Barat pagi itu justru ramai oleh deru mesin helikopter. Pemerintah pusat akhirnya mengerahkan alutsista udara untuk menembus wilayah-wilayah yang terisolasi. Tujuannya satu: mengantarkan bantuan pangan dan logistik lain yang mendesak bagi korban banjir dan longsor. Dengan sejumlah akses jalan terputus, jalur udara menjadi harapan tercepat.

Senin lalu, operasi udara gabungan pun digeber. BNPB bekerja sama dengan TNI dan Basarnas mengangkut total 4 ton barang bantuan menuju tiga kabupaten yang paling parah terdampak: Solok, Agam, dan Pasaman Barat.

Helikopter Basarnas bernomor HR 3684, misalnya, membawa 360 kilogram bantuan ke Solok. Isinya beragam, mulai dari beras dan air mineral sampai kasur dan obat-obatan.

“Kondisi di lapangan memang memaksa kita untuk kreatif. Kalau lewat darat macet total, ya kita terbang,” ujar seorang koordinator lapangan yang enggan disebutkan namanya.

Di sisi lain, wilayah Maligi di Pasaman Barat mendapat kiriman lewat helikopter TNI AU. Sekitar 1,34 ton bahan pangan dan barang-barang penunjang hidup seperti family kit dan selimut, akhirnya bisa sampai ke lokasi.

Kabupaten Agam juga tak ketinggalan. Lebih dari 2,3 ton bantuan diterjunkan ke dua titik, Tiku dan Sungai Puar. Makanan bayi, sembako, hingga selimut dibawa dengan susah payah melalui udara. Semuanya diangkut oleh armada TNI AU, yang terus bolak-balik sepanjang hari.

Data pengungsian yang terkumpul sementara cukup memprihatinkan. Di Solok saja, hampir 4 ribu jiwa harus mengungsi. Sementara di Pasaman Barat, angkanya jauh lebih besar: sekitar 58 ribu jiwa terdampak, dengan ribuan di antaranya mengungsi. Untuk Agam, pendataan di pos-pos pengungsian masih terus berlangsung hingga berita ini diturunkan.

Menurut sejumlah saksi di lapangan, upaya distribusi kini dijalankan lewat tiga front: darat, laut, dan udara. Namun begitu, fokus utama saat ini adalah membuka jalan darat yang tertutup material longsor. Alat-alat berat sudah dikerahkan. Harapannya, begitu akses darat terbuka, pengiriman bantuan bisa lebih efektif dan menjangkau lebih banyak orang.

Nuansa naratif: Suasana di lokasi pengungsian terasa campur aduk antara haru dan harapan. Setiap kali helikopter mendarat, kerumunan warga tampak antusias menyambut. Meski lelah dan cemas, bantuan yang turun dari langit itu setidaknya memberi secercah kepastian bahwa mereka tidak dilupakan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar