MURIANETWORK.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa negaranya tetap mengutamakan jalur diplomasi meski berada dalam posisi siaga penuh untuk menghadapi potensi konflik. Pernyataan tegas ini disampaikan di hadapan Kongres Nasional Kebijakan Luar Negeri Republik Islam di Teheran, Minggu (8/2), di tengah memanasnya ketegangan dengan Amerika Serikat pasca pembicaraan nuklir tidak langsung di Oman.
Diplomasi dan Kesiapan Tempur Berjalan Beriringan
Dalam pidatonya di ibu kota Iran itu, Araghchi menyampaikan filosofi pertahanan negaranya dengan nada yang lugas namun berhati-hati. Ia menolak citra Iran sebagai pencari konflik, tetapi justru menggambarkan kesiapan tempur sebagai sebuah strategi pencegahan.
"Kita adalah bangsa yang berdiplomasi, kita juga bangsa yang siap berperang; bukan dalam arti kita mencari perang, tetapi... kita siap berperang agar tidak ada yang berani melawan kita," ujarnya.
Pernyataan tersebut, yang disambut oleh para peserta kongres, secara jelas memetakan pendekatan dua sisi Teheran dalam menghadapi tekanan internasional, khususnya dari Washington.
Martabat Nasional sebagai Prinsip Utama
Lebih dalam, diplomat senior itu menjelaskan bahwa fondasi dari seluruh kebijakan luar negeri Iran saat ini adalah prinsip martabat. Dalam konteks operasional, prinsip ini diterjemahkan sebagai komitmen untuk menjaga kemerdekaan, menolak segala bentuk dominasi asing, dan mempertahankan kedaulatan negara di atas segalanya.
Araghchi menambahkan bahwa respons Iran akan selalu bersifat timbal balik dan proporsional terhadap sikap yang ditunjukkan oleh pihak lain. Menurutnya, bahasa diplomasi akan dijawab dengan diplomasi, sementara pendekatan yang penuh penghormatan akan mendapat sambutan yang sama.
Komitmen pada Jalan Dialog Nuklir
Menyentuh isu yang paling sering memicu ketegangan, yaitu program nuklir Iran, Araghchi menyatakan kesiapan pemerintahannya untuk mengklarifikasi ambiguitas yang masih ada. Namun, ia dengan tegas menempatkan diplomasi sebagai satu-satunya jalan yang realistis dan terbukti untuk mencapai penyelesaian.
Penekanan pada opsi dialog ini mengisyaratkan kehati-hatian Tehran, sekaligus menyiratkan penilaian bahwa jalur konfrontasi lain dinilai tidak membuahkan hasil yang diinginkan bagi semua pihak. Pernyataan ini muncul sebagai pesan kepada komunitas global di tengah situasi geopolitik yang masih rentan.
Artikel Terkait
Teguran Soal Drum Berisik Berujung Penganiayaan dan Laporan Balik di Cengkareng
Ribuan Warga Australia Protes Kunjungan Presiden Israel Isaac Herzog
Cara Cek Peringkat Kesejahteraan Keluarga di Aplikasi Cek Bansos
Hyundai Santa Fe XRT Resmi Dirilis, Harga Rp932,4 Juta di Jakarta