Alan Yeung, Lead Partner di Clifford Chance, menyampaikan optimismenya.
"Kami senang bisa mendukung perbankan dalam transaksi penting ini. Keberhasilan PLN kembali ke pasar obligasi dolar AS itu jelas mencerminkan kuatnya kepercayaan investor internasional. Tidak hanya terhadap sektor infrastruktur Indonesia, tapi juga terhadap instrumen kredit berkualitas tinggi yang punya keterkaitan dengan negara," ujarnya dalam keterangan resmi yang dikutip Senin (9/2/2026).
Di balik layar, sindikasi perbankan yang menggarap deal ini terdiri dari nama-nama besar. Mulai dari Citigroup, HSBC, Mandiri Sekuritas, lalu ada juga MUFG Securities Asia Limited Cabang Singapura, SMBC Nikko Securities (Hong Kong) Limited, dan Standard Chartered Bank. Keroyokan lembaga keuangan global ini menunjukkan betapa seriusnya transaksi tersebut.
Lantas, untuk apa dana triliunan rupiah itu dialokasikan? Menurut informasi, fokus utamanya adalah mendongkrak pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan. Secara spesifik, dananya akan dipakai untuk pengembangan sektor transmisi dan distribusi, plus tentu saja, menggenjot proyek pembangkit listrik non-batu bara. Sebuah langkah strategis seiring dengan tren transisi energi yang sedang digencarkan.
Artikel Terkait
John Herdman Awali Era Baru Timnas Indonesia dengan Target Jangka Panjang Piala Dunia 2030
Batas Pelaporan SPT Tahunan Diperpanjang hingga 30 April 2026
BMKG Prakirakan Hujan Guyur Sebagian Besar Wilayah Indonesia Hari Ini
Polandia dan Denmark Lolos ke Final Play-Off Kualifikasi Piala Dunia 2026