Fungsi Penting New START yang Berakhir
Perjanjian New START, yang mulai berlaku pada 2010, merupakan pilar utama stabilitas strategis. Dokumen itu menetapkan batasan ketat, yakni maksimal 1.550 hulu ledak nuklir strategis yang dapat ditempatkan oleh masing-masing pihak. Angka ini merepresentasikan penurunan hampir 30 persen dari batas yang disepakati sebelumnya pada 2002.
Selain pembatasan kuantitatif, perjanjian ini juga memiliki mekanisme verifikasi yang vital. Kedua belah pihak diberikan hak untuk melakukan inspeksi di lokasi persenjataan masing-masing, sebuah langkah penting untuk membangun transparansi dan kepercayaan. Namun, praktik inspeksi lapangan ini sempat ditangguhkan selama pandemi Covid-19 dan hingga detik perjanjian berakhir, belum ada kesepakatan untuk melanjutkannya.
Desakan untuk Segera Kembali ke Meja Perundingan
Menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini, Sekjen PBB tidak hanya memberikan peringatan. Ia secara eksplisit mendesak kedua negara untuk mengambil tindakan nyata dan segera.
Guterres mendesak Washington dan Moskow "untuk segera kembali ke meja perundingan dan menyepakati kerangka kerja pengganti."
Seruan ini menekankan bahwa diplomasi dan dialog adalah satu-satunya jalan yang bertanggung jawab untuk mencegah perlombaan senjata baru dan mengurangi risiko konflik yang tak terbayangkan. Masa depan pengendalian senjata nuklir global kini sangat bergantung pada kemauan politik dan kearifan kedua pemegang senjata terbesar dunia.
Artikel Terkait
Pemkab Sukoharjo Beri Pembinaan ke Kades yang Tak Izinkan Salat Id Lebih Dulu
Korlantas Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret 2026
Lille Kalahkan Marseille 2-1 di Velodrome, Persaingan Papan Atas Ligue 1 Makin Ketat
Gubernur Sultra Gelar Open House Lebaran, Biaya Ditanggung Pribadi