Gentengisasi: Dari Atap Rumah Hingga Kesehatan Bangsa

- Rabu, 04 Februari 2026 | 14:00 WIB
Gentengisasi: Dari Atap Rumah Hingga Kesehatan Bangsa

Gagasan Prabowo soal gentengisasi nasional sebenarnya jauh lebih dalam dari sekadar urusan tampilan rumah. Di negara tropis seperti kita, material atap itu soal hidup-mati. Ia menentukan seberapa sehat udara di dalam rumah, memengaruhi kualitas tidur, dan pada akhirnya, menyentuh keberlanjutan pembangunan itu sendiri.

Selama ini, atap seng memang jadi pilihan utama. Harganya murah, pemasangannya cepat. Tapi coba rasakan di siang bolong. Panasnya bukan main. Itu karena logam punya performa termal yang buruk di iklim panas-lembap; ia menyerap dan memantulkan terik matahari langsung ke ruang hidup kita. Akibatnya, suhu di dalam bisa bertahan tinggi hingga larut malam.

Nah, dampaknya bagi kesehatan ternyata serius, meski sering tak terlihat. Sebuah penelitian di kawasan perkotaan Afrika Barat menyebut panas dalam ruang sebagai ancaman kesehatan yang "sunyi".

Ia jarang jadi diagnosis tunggal di rumah sakit, tapi dampaknya nyata dalam keseharian.

Kelompok paling rentan? Balita dan lansia. Secara alami, kemampuan tubuh mereka mengatur suhu lebih terbatas, dan mereka lebih banyak menghabiskan waktu di dalam rumah.

Pada anak-anak, ruangan yang panas bisa memicu heat stress ringan. Gejalanya mungkin cuma dehidrasi, rewel, atau susah tidur. Tapi kalau berlangsung terus-menerus, tumbuh kembang dan daya tahan tubuh mereka bisa terganggu.

Sementara bagi orang tua, paparan panas kronis berisiko memperburuk kondisi seperti hipertensi atau penyakit jantung. Dehidrasi yang tak disadari dan kelelahan ekstrem juga sering mengintai.

Belum lagi urusan tidur. Suhu yang tetap tinggi di malam hari bikin tidur jadi dangkal dan terpotong-potong. Coba bayangkan, tidur tak nyenyak berbulan-bulan. Imunitas turun, konsentrasi buyar, produktivitas pun ikut anjlok. Dampak kumulatif ini jarang tercatat di data kesehatan formal, tapi sungguh dirasakan oleh banyak keluarga.

Temuan ini diperkuat lagi oleh kajian global yang menganalisis puluhan ribu desain bangunan di kota tropis, termasuk Jakarta. Hasilnya jelas: material atap adalah faktor penentu utama paparan heat stress. Rumah dengan atap logam terpapar panas jauh lebih tinggi dibanding yang memakai genteng tanah liat.


Halaman:

Komentar