Ucapnya dengan nada berat. Rasa hormat yang dalam memang pantas diberikan, bukan hanya sebagai istri seorang purnawirawan tinggi, tapi juga sebagai pribadi yang dihormati.
Perjalanan hidup Eyang Meri sendiri panjang dan penuh makna. Lahir pada 23 Juni 1925, ia adalah putri dari Soemakno Martokoesoemo dan Jeanne Reyneke van Stuwe. Cintanya dengan Hoegeng bersemi di masa-masa awal republik, dan akhirnya mereka resmi menikah di Yogyakarta pada 31 Oktober 1946. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai tiga anak: Renny Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng, dan Sri Pamujining Rahayu.
Di usianya yang nyaris seabad, Eyang Meri masih dikenang akan keramahan dan kesederhanaannya. Saat merayakan ulang tahunnya yang ke-100 tahun lalu, ia sempat menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian yang diberikan Kapolri dan seluruh jajaran.
Begitu katanya waktu itu, Senin (23/6/2025). Kini, doa-doa itu tinggal kenangan. Selamat jalan, Eyang Meri. Telah selesai sudah tugasmu di dunia.
Artikel Terkait
Tiga Kabupaten di Aceh Masih Berstatus Tanggap Darurat Meski Fase Pemulihan Sudah Dimulai
Setelah Dengar Janji Prabowo, MUI Balik Arah Dukung Indonesia Masuk Dewan Perdamaian
Jembatan Baru di Sri Meranti: Dari Kayu Lapuk Jadi Beton Kokoh untuk 250 Keluarga
200 Kg Ganja Digagalkan di Langkat, Tiga Kurir Diamankan