DLH DKI Bantah Isu Pemadaman Alat Pantau Udara di Rorotan

- Senin, 02 Februari 2026 | 11:30 WIB
DLH DKI Bantah Isu Pemadaman Alat Pantau Udara di Rorotan

Isu yang beredar soal pemadaman alat pemantau udara di sekitar RDF Plant Rorotan, Cilincing, langsung dibantah tegas oleh Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta. Menurut mereka, kabar itu sama sekali tidak benar. Alat-alat itu tetap menyala dan bekerja.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi? Asep Kuswanto, sang Kepala DLH DKI, memberi penjelasan. Sistem Pemantau Kualitas Udara atau SPKU itu sedang dalam proses uji kolokasi. Intinya, alat-alat sensor itu sedang dikalibrasi di lapangan. Tujuannya sederhana: memastikan data yang nanti dikeluarkan akurat dan bisa diandalkan, terutama soal kualitas udara dan tingkat kebauan.

"Tidak ada pemadaman atau penghentian pemantauan. Yang dilakukan adalah proses kalibrasi lapangan agar sensor membaca kondisi lingkungan secara tepat dan tidak menimbulkan salah tafsir terhadap data mentah,"

kata Asep dalam keterangannya, Senin (2/2/2026).

Menurut Asep, uji semacam ini adalah hal yang wajar. Apalagi untuk teknologi pemantauan baru. Proses kalibrasi membantu mengidentifikasi apakah ada bias pada sensor karena pengaruh lingkungan sekitar kawasan pesisir seperti Rorotan punya karakteristik sendiri yang perlu dipertimbangkan.

Di sisi lain, perlu diingat bahwa sejak akhir tahun lalu, tepatnya Desember 2025, DLH sudah memasang delapan unit SPKU di seputar lokasi RDF Plant Rorotan. Yang menarik, seluruh unit ini dilengkapi dengan sensor khusus untuk mendeteksi bau. Mereka bisa memantau parameter seperti amoniak, hidrogen sulfida, dan beberapa senyawa lainnya. Konon, ini adalah sistem pertama di Indonesia yang punya fitur pengukur kebauan ambien secara khusus.

Nah, dalam uji kolokasi ini, sampel udara ambien diambil dengan metode standar, lalu dibawa ke lab terakreditasi. Hasil dari lab itulah yang nantinya jadi pembanding untuk data mentah dari SPKU. Tujuannya jelas: menyempurnakan sistem sebelum data dibuka sepenuhnya untuk publik.

"Data kebauan tidak bisa dibaca sebagai satu angka tunggal,"

tambah Asep menerangkan.

SPKU lebih berfungsi sebagai sistem peringatan dini dan alat untuk membaca tren perubahan dari waktu ke waktu. Bukan untuk memberikan penilaian instan yang hitam putih. Jadi, semuanya butuh proses dan ketelitian sebelum hasilnya bisa dipertanggungjawabkan.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar