AS Bersiap Merebut Greenland, Bom Waktu Geopolitik di Kutub Utara

- Sabtu, 31 Januari 2026 | 16:35 WIB
AS Bersiap Merebut Greenland, Bom Waktu Geopolitik di Kutub Utara

Upaya Amerika Serikat mengincar Greenland bukanlah sekadar isapan jempol. Pulau es raksasa yang terletak di antara Atlantik dan Arktik itu punya nilai strategis yang luar biasa. Awalnya, Washington mencoba pendekatan lunak, bahkan sempat membicarakan skema akuisisi. Tapi kini, nada mereka berubah. Jalur militer mulai dipertimbangkan, sebuah langkah yang berisiko memicu ketegangan serius dengan Denmark, sang pengelola sah Greenland.

Klaim AS selalu sama: ini soal pembendungan. Mereka khawatir dengan pengaruh Rusia dan Tiongkok yang mulai merambah ke wilayah itu. Logikanya sederhana, kalau Greenland jatuh ke tangan Beijing atau Moskow, pengaruh geopolitik dan geoekonomi AS di Eropa dan Asia bisa tergerus habis.

Di balik semua retorika itu, motif utamanya jelas: energi. Teori-teori geopolitik lawas soal penguasaan darat dan laut memang masih relevan, tapi perlahan bergeser. Sekarang, medan tarung utamanya adalah wilayah yang menyimpan sumber daya energi paling besar. Itulah magnet yang menarik negara-negara adidaya untuk bertarung.

Greenland, dalam hal ini, adalah target berikutnya. Polanya mirip dengan apa yang dilakukan AS sebelumnya. Mereka sudah menginvasi Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Sekarang, giliran pulau di utara itu yang jadi buruan.

Mengapa Greenland Sangat Berharga?

Nilai strategis Greenland sungguh menggiurkan. Pertama, pulau itu dipenuhi mineral langka dan logam tanah jarang. Uranium, tantalum, dan lainnya semua sangat krusial untuk industri modern dan pertahanan.

Kedua, soal migas. Cadangan minyak dan gas di sana diperkirakan sangat besar, meski belum sepenuhnya dieksplorasi. Saat cadangan fosil global terus menyusut, sumber-sumber baru seperti ini jadi rebutan. Ironisnya, di saat yang sama, komitmen pada energi hijau seringkali hanya jadi jargon belaka.

Lalu ada faktor ketiga: air. Dunia sedang menghadapi ancaman kekeringan parah akibat perubahan iklim. Nah, dua pertiga air tawar dunia justru membeku di es Greenland. Siapa yang menguasainya, menguasai harta karun vital di masa depan. Belum lagi soal penguasaan jalur perdagangan dan transportasi cepat ke Asia dan Eropa. Sungguh paket komplet.

Kebiasaan AS mengincar sumber energi orang lain sebenarnya wajar, jika melihat ketergantungan mereka yang luar biasa pada fosil. Data EIA menunjukkan, sekitar 90% bauran energi utama AS masih didominasi minyak dan gas. Kebutuhan sektor transportasi dan industrinya yang raksasa mustahil dipenuhi dari cadangan dalam negeri saja. Maka, solusinya ya mencari ke luar.

Itulah akar dari banyak aksi mereka: invasi ke Irak, politik proksi di Timur Tengah, hingga serangan ke Venezuela. Semua dibungkus rapi dengan jargon-jargon mulia seperti demokratisasi atau perang melawan teror.

Perang di Balik Logam Langka

Dalam perlombaan kuasai logam tanah jarang, AS jelas tertinggal jauh. Posisi Tiongkok sangat dominan. Negeri Tirai Bambu menguasai 70% produksi tambang dan 90% pengolahan global. Mereka jauh lebih mahir dalam memurnikan material kritis ini.

Karena itulah rivalitas keduanya memanas. AS berusaha menjegal Tiongkok dengan melarang perusahaan-perusahaan China mengakses teknologi cip semikonduktor canggih. Tiongkok tak tinggal diam. Mereka membalas dengan mengetatkan ekspor logam langka.

Bahkan, sejak Desember 2025 nanti, perusahaan asing mana pun yang mau mengekspor produk mengandung logam tanah jarang asal Tiongkok harus dapat izin dulu dari Beijing. Langkah yang sangat agresif.

Dengan peta persaingan seperti ini, wajar jika AS, khususnya di era Trump dulu, mati-matian mengincar Greenland. Menguasai sumber daya di sana bisa mengejar ketertinggalan dari Tiongkok. Cadangan migas Greenland juga jadi jaminan untuk menjaga industri dalam negeri mereka tetap hidup, sambil terus mengeksploitasi sumber energi di Timur Tengah melalui sekutu-sekutunya.

Lebih dari itu, menguasai Greenland secara teritorial adalah senjata geopolitik ampuh. Itu bisa menjadi penghalang bagi ekspansi Tiongkok lewat Jalur Sutera. AS bisa memotong jalur perdagangan cepat dan memecah penetrasi ekonomi Beijing ke Eropa.

Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan Saja

Tapi ambisi AS ini penuh risiko. Denmark pasti akan mempertahankan Greenland mati-matian. Kemarahan Kopenhagen bisa memecah soliditas NATO dari dalam, di mana AS dan Denmark sama-sama anggotanya.

Masyarakat lokal Greenland pun kemungkinan besar menolak. Secara sosiokultural, mereka lebih dekat ke Eropa meski secara geografis berada di Benua Amerika. Negara-negara Eropa lainnya juga tak akan diam. Pencaplokan Greenland oleh sekutu mereka sendiri bisa jadi preseden buruk yang berbahaya.

Memang, AS mungkin akan memainkan kartu ancaman Rusia untuk mendapat simpati Eropa. Namun, gaya politik luar negeri AS yang terkesan brutal dan arogan di bawah kepemimpinan Trump justru menjadi bumerang. Itu memicu resistensi yang lebih kuat.

Jika semua ini tidak dikelola dengan hati-hati, situasinya bisa runyam. Bisa dibilang, perang dunia ketiga mungkin tinggal menunggu waktu saja untuk meletus dari sini.

Boy Anugerah. Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017 & Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI Periode 2024-2029.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler