Upaya Amerika Serikat mengincar Greenland bukanlah sekadar isapan jempol. Pulau es raksasa yang terletak di antara Atlantik dan Arktik itu punya nilai strategis yang luar biasa. Awalnya, Washington mencoba pendekatan lunak, bahkan sempat membicarakan skema akuisisi. Tapi kini, nada mereka berubah. Jalur militer mulai dipertimbangkan, sebuah langkah yang berisiko memicu ketegangan serius dengan Denmark, sang pengelola sah Greenland.
Klaim AS selalu sama: ini soal pembendungan. Mereka khawatir dengan pengaruh Rusia dan Tiongkok yang mulai merambah ke wilayah itu. Logikanya sederhana, kalau Greenland jatuh ke tangan Beijing atau Moskow, pengaruh geopolitik dan geoekonomi AS di Eropa dan Asia bisa tergerus habis.
Di balik semua retorika itu, motif utamanya jelas: energi. Teori-teori geopolitik lawas soal penguasaan darat dan laut memang masih relevan, tapi perlahan bergeser. Sekarang, medan tarung utamanya adalah wilayah yang menyimpan sumber daya energi paling besar. Itulah magnet yang menarik negara-negara adidaya untuk bertarung.
Greenland, dalam hal ini, adalah target berikutnya. Polanya mirip dengan apa yang dilakukan AS sebelumnya. Mereka sudah menginvasi Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia. Sekarang, giliran pulau di utara itu yang jadi buruan.
Mengapa Greenland Sangat Berharga?
Nilai strategis Greenland sungguh menggiurkan. Pertama, pulau itu dipenuhi mineral langka dan logam tanah jarang. Uranium, tantalum, dan lainnya semua sangat krusial untuk industri modern dan pertahanan.
Kedua, soal migas. Cadangan minyak dan gas di sana diperkirakan sangat besar, meski belum sepenuhnya dieksplorasi. Saat cadangan fosil global terus menyusut, sumber-sumber baru seperti ini jadi rebutan. Ironisnya, di saat yang sama, komitmen pada energi hijau seringkali hanya jadi jargon belaka.
Lalu ada faktor ketiga: air. Dunia sedang menghadapi ancaman kekeringan parah akibat perubahan iklim. Nah, dua pertiga air tawar dunia justru membeku di es Greenland. Siapa yang menguasainya, menguasai harta karun vital di masa depan. Belum lagi soal penguasaan jalur perdagangan dan transportasi cepat ke Asia dan Eropa. Sungguh paket komplet.
Kebiasaan AS mengincar sumber energi orang lain sebenarnya wajar, jika melihat ketergantungan mereka yang luar biasa pada fosil. Data EIA menunjukkan, sekitar 90% bauran energi utama AS masih didominasi minyak dan gas. Kebutuhan sektor transportasi dan industrinya yang raksasa mustahil dipenuhi dari cadangan dalam negeri saja. Maka, solusinya ya mencari ke luar.
Itulah akar dari banyak aksi mereka: invasi ke Irak, politik proksi di Timur Tengah, hingga serangan ke Venezuela. Semua dibungkus rapi dengan jargon-jargon mulia seperti demokratisasi atau perang melawan teror.
Artikel Terkait
AS Setujui Penjualan Senjata Rp 109 Triliun, Apache dan Kendaraan Tempur untuk Israel
Rafah Akhirnya Dibuka, Warga Gaza Boleh Pulang dengan Syarat Ketat
Ade Rezki Pratama Soroti Keterbatasan ICU dan Fasilitas Darurat di Padang Pariaman
PDIP Bantah Hadiri Pertemuan dengan Presiden: Kami Bukan Oposisi, Tapi Penyeimbang