Dalam perlombaan kuasai logam tanah jarang, AS jelas tertinggal jauh. Posisi Tiongkok sangat dominan. Negeri Tirai Bambu menguasai 70% produksi tambang dan 90% pengolahan global. Mereka jauh lebih mahir dalam memurnikan material kritis ini.
Karena itulah rivalitas keduanya memanas. AS berusaha menjegal Tiongkok dengan melarang perusahaan-perusahaan China mengakses teknologi cip semikonduktor canggih. Tiongkok tak tinggal diam. Mereka membalas dengan mengetatkan ekspor logam langka.
Bahkan, sejak Desember 2025 nanti, perusahaan asing mana pun yang mau mengekspor produk mengandung logam tanah jarang asal Tiongkok harus dapat izin dulu dari Beijing. Langkah yang sangat agresif.
Dengan peta persaingan seperti ini, wajar jika AS, khususnya di era Trump dulu, mati-matian mengincar Greenland. Menguasai sumber daya di sana bisa mengejar ketertinggalan dari Tiongkok. Cadangan migas Greenland juga jadi jaminan untuk menjaga industri dalam negeri mereka tetap hidup, sambil terus mengeksploitasi sumber energi di Timur Tengah melalui sekutu-sekutunya.
Lebih dari itu, menguasai Greenland secara teritorial adalah senjata geopolitik ampuh. Itu bisa menjadi penghalang bagi ekspansi Tiongkok lewat Jalur Sutera. AS bisa memotong jalur perdagangan cepat dan memecah penetrasi ekonomi Beijing ke Eropa.
Bom Waktu yang Bisa Meledak Kapan Saja
Tapi ambisi AS ini penuh risiko. Denmark pasti akan mempertahankan Greenland mati-matian. Kemarahan Kopenhagen bisa memecah soliditas NATO dari dalam, di mana AS dan Denmark sama-sama anggotanya.
Masyarakat lokal Greenland pun kemungkinan besar menolak. Secara sosiokultural, mereka lebih dekat ke Eropa meski secara geografis berada di Benua Amerika. Negara-negara Eropa lainnya juga tak akan diam. Pencaplokan Greenland oleh sekutu mereka sendiri bisa jadi preseden buruk yang berbahaya.
Memang, AS mungkin akan memainkan kartu ancaman Rusia untuk mendapat simpati Eropa. Namun, gaya politik luar negeri AS yang terkesan brutal dan arogan di bawah kepemimpinan Trump justru menjadi bumerang. Itu memicu resistensi yang lebih kuat.
Jika semua ini tidak dikelola dengan hati-hati, situasinya bisa runyam. Bisa dibilang, perang dunia ketiga mungkin tinggal menunggu waktu saja untuk meletus dari sini.
Boy Anugerah. Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015-2017 & Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI Periode 2024-2029.
Artikel Terkait
Genangan Air Masih Selimuti Lima RT di Jakarta Utara
Ricuh Singkat di Luar Indomilk Arena Usai Derbi Persita vs Persija
Tetangga di Cilacap Bunuh dan Perkosa Bocah 4,5 Tahun yang Hanya Ingin Main
Gencatan Senjata Gaza Terkoyak Lagi, 11 Jiwa Melayang di Tenda Pengungsian