Lalu, seperti apa kenyamanan bekerja itu? Ini bukan cuma soal ruangan yang nyaman. Lebih dari itu, ia mencakup budaya sekolah yang suportif, hubungan baik dengan rekan sejawat, manajemen yang transparan, rasa aman, peluang untuk berkembang, dan yang tak kalah penting: apresiasi atas kinerja.
Sayangnya, kenyamanan itu seringkai terganggu. Kasus kekerasan terhadap guru belakangan justru banyak datang dari murid dan yang lebih memprihatinkan orang tua mereka sendiri. Kekerasan verbal hingga fisik semakin sering terdengar. Bahkan, tak jarang guru dilaporkan ke polisi hanya karena menegur atau mendisiplinkan murid. Situasi seperti ini menciptakan iklim ketakutan. Guru menjadi was-was dan ragu dalam mengambil langkah edukatif, khawatir berurusan dengan hukum.
Hari ini, tantangan yang dihadapi guru jauh lebih kompleks. Di dalam kelas, peran mereka sudah melampaui sekadar pengajar. Mereka jadi mediator konflik, tempat curhat, bahkan kadang menggantikan peran orang tua. Pendekatan pembelajaran modern menuntut mereka untuk 'mengajar melampaui kelas'. Belum lagi tuntutan administratif yang tiada henti. Beban itu sungguh berat.
Merajut Kembali Harmoni
Ki Hajar Dewantara pernah mengingatkan, tujuan pendidikan tak akan tercapai tanpa sinergi yang harmonis antara sekolah, rumah, dan masyarakat. Konsep ini ia sebut Tri Sentra Pendidikan.
Peringatan itu masih relevan hingga sekarang. Peran orang tua sangat krusial. Kita perlu membangun kembali rasa hormat kepada guru dan memahami bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab bersama. Ketika ada masalah di sekolah, dialog konstruktif harus didahulukan, bukan langsung konfrontasi.
Tentu, budaya dialog seperti itu tidak bisa muncul dalam semalam. Dengan semangat mendukung tumbuh kembang anak bukan hanya nilai akademis hubungan baik dengan orang tua harus terus dirajut. Studi Joyce Epstein di tahun 80-an tentang kemitraan sekolah-keluarga-masyarakat telah mengubah cara pandang dunia tentang sekolah ideal. Intinya, orang tua harus terlibat aktif dalam pendidikan anak di sekolah. Hasil akhir dari pendidikan adalah buah kerja sama, bukan usaha satu pihak.
Melalui berbagai bentuk pelibatan, harapan dan tantangan bisa dibahas bersama dalam kegiatan-kegiatan yang saling menguatkan.
Jadi, melindungi guru bukan sekadar membela hak-hak individu seorang pendidik. Ini soal memastikan seluruh sistem pendidikan kita bisa berjalan optimal. Bayangkan, guru yang merasa aman, nyaman, dihargai, dan sejahtera pasti akan mengajar dengan lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, lebih peduli, dan pada akhirnya, lebih mampu menginspirasi generasi penerus bangsa.
Sri Lestari Yuniarti. Widyaprada Ahli Muda di Ditjen GTKPG, Kemendikdasmen, PP APPAUDI. Tulisan adalah pendapat pribadi.
Artikel Terkait
Kaesang Pangarep Siap Peras Darah Demi Kemenangan PSI di 2029
Ma Dong-seok dan Lisa BLACKPINK Bikin Heboh, Syuting Film di Jakarta Libatkan Rekayasa Lalu Lintas
Kaesang Menangis di Hadapan Kader, Berjanji Besarkan PSI
Iran Tegas: Siap Bicara dengan AS, Asal Tak Ada Ancaman di Balik Meja