Komisi Eropa punya dua opsi utama: memberi denda hingga 6% dari omzet global tahunan perusahaan, atau untuk pelanggaran berat dan berulang, memblokir platformnya sama sekali. X sendiri bukan baru pertama kali kena sanksi; mereka didenda €120 juta Desember lalu karena masalah transparansi. Untuk kasus Grok ini, denda mungkin jadi langkah paling realistis setidaknya untuk sementara.
Kekuatan sebenarnya Brussels terletak pada besarnya pasar mereka. Sebagai salah satu blok konsumen terbesar di dunia, itu memberikan daya tekan yang tidak main-main.
Di Balik Meja Politik
Namun begitu, hukum dan politik sering tak sejalan. Banyak pengamat yang meragukan keberanian Komisi Eropa untuk bertindak tegas. "Aturannya ada. Masalahnya penegakan," kata Marco Bassini, akademisi yang fokus pada hak asasi dan AI.
Hubungan Uni Eropa dan Amerika Serikat sendiri sedang tidak terlalu hangat. Kabarnya, penyelidikan terhadap Grok sempat ditunda atas arahan kantor Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen. Alasannya berkaitan dengan ketegangan dagang antara UE dan AS soal tarif Greenland. Sejarah pun mencatat, pejabat AS pernah mengaitkan masalah tarif dengan kelonggaran regulasi teknologi dari Eropa.
"Sebuah kesalahan besar telah dibuat," kritik Alexandra Geese, anggota Parlemen Eropa. "Ada ketakutan berlebihan terhadap reaksi pemerintahan AS."
Lantas, Seberapa Jauh Ini Akan Berjalan?
Penyelidikan memang sudah dimulai, tapi keraguan tetap membayangi. "Posisi hukum dan posisi geopolitik itu berbeda," jelas Bryson. "Komisi pasti mempertimbangkan keduanya."
Ada pula pertanyaan yang lebih mendasar: apakah denda 6% cukup untuk membuat orang terkaya di dunia ini mengubah perilakunya? "Angka ini seharusnya dinaikkan agar perusahaan benar-benar memperhatikan apa yang diharapkan legislator Eropa," desak Axel Voss, anggota Parlemen Eropa lainnya.
Tidak ada batas waktu yang pasti. Proses ini bisa makan waktu berbulan-bulan. Satu hal yang sudah jelas: kasus Grok bukan cuma soal kecerdasan buatan lagi. Ini adalah pertarungan baru tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali atas tubuh, data, dan martabat manusia di era yang dikendalikan algoritma ini.
Artikel ini merupakan adaptasi dari bahasa Inggris.
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
Kaesang Pangarep Siap Peras Darah Demi Kemenangan PSI di 2029
Ma Dong-seok dan Lisa BLACKPINK Bikin Heboh, Syuting Film di Jakarta Libatkan Rekayasa Lalu Lintas
Kaesang Menangis di Hadapan Kader, Berjanji Besarkan PSI
Iran Tegas: Siap Bicara dengan AS, Asal Tak Ada Ancaman di Balik Meja