Badai MSCI Guncang Bursa, Investor Ramai-ramai Cari Peluang di Tengah Koreksi

- Selasa, 03 Februari 2026 | 07:40 WIB
Badai MSCI Guncang Bursa, Investor Ramai-ramai Cari Peluang di Tengah Koreksi

Pasar saham kita baru saja diguncang badai. IHSG anjlok lebih dari 8 persen dalam dua hari berturut-turut, Rabu dan Kamis pekan lalu, sampai-sampai perdagangan saham terpaksa dihentikan sementara. Guncangan ini, jujur saja, cukup membuat investor ciut. Pemicunya? Penilaian keras dari MSCI, penyedia indeks global ternama, yang menyoroti masalah free float dan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.

Tekanan belum berhenti. Di awal pekan ini, Senin (2/2), indeks masih terpuruk dan ditutup melemah hampir 5 persen ke level 7.922,73. Suasana pasar terasa gamang.

Namun begitu, menurut Joanne Goh dari DBS Bank, kekhawatiran ini lebih didorong oleh kebingungan pasar, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang tiba-tiba runtuh. Dalam risetnya tanggal 30 Januari, dia menyoroti bahwa MSCI sebenarnya sudah memberi waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas kita untuk berbenah. Artinya, ada ruang untuk bergerak.

Meski begitu, ancamannya nyata. Kalau langkah perbaikan tak kunjung datang, Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier. Itu bisa memukul keras aliran modal asing.

Di sisi lain, respon dari dalam negeri mulai terlihat. Sebuah bank besar, misalnya, sudah mengumumkan rencana buyback saham senilai Rp 5 triliun. Beberapa konglomerat lain juga dikabarkan siap melakukan hal serupa jika volatilitas tak kunjung reda. OJK pun tak tinggal diam, dengan menetapkan aturan baru soal minimum free float 15 persen untuk perusahaan publik.

Memang, kalau melihat sejarah, penurunan status pasar pernah terjadi di negara lain. Tapi DBS menilai skenario itu terlalu ekstrem untuk Indonesia. Sejak 2001, Indonesia konsisten berada di kategori pasar berkembang. Ekonomi kita tumbuh stabil sekitar 5 persen, dan berbagai reformasi struktural telah dilakukan pasca krisis 1997.


Halaman:

Komentar