Pasar saham kita baru saja diguncang badai. IHSG anjlok lebih dari 8 persen dalam dua hari berturut-turut, Rabu dan Kamis pekan lalu, sampai-sampai perdagangan saham terpaksa dihentikan sementara. Guncangan ini, jujur saja, cukup membuat investor ciut. Pemicunya? Penilaian keras dari MSCI, penyedia indeks global ternama, yang menyoroti masalah free float dan transparansi kepemilikan saham di Indonesia.
Tekanan belum berhenti. Di awal pekan ini, Senin (2/2), indeks masih terpuruk dan ditutup melemah hampir 5 persen ke level 7.922,73. Suasana pasar terasa gamang.
Namun begitu, menurut Joanne Goh dari DBS Bank, kekhawatiran ini lebih didorong oleh kebingungan pasar, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang tiba-tiba runtuh. Dalam risetnya tanggal 30 Januari, dia menyoroti bahwa MSCI sebenarnya sudah memberi waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas kita untuk berbenah. Artinya, ada ruang untuk bergerak.
“Secara fundamental, pandangan kami terhadap Indonesia tetap positif, terutama untuk saham-saham berkapitalisasi besar,” kata DBS.
Meski begitu, ancamannya nyata. Kalau langkah perbaikan tak kunjung datang, Indonesia berisiko diturunkan statusnya dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar frontier. Itu bisa memukul keras aliran modal asing.
Di sisi lain, respon dari dalam negeri mulai terlihat. Sebuah bank besar, misalnya, sudah mengumumkan rencana buyback saham senilai Rp 5 triliun. Beberapa konglomerat lain juga dikabarkan siap melakukan hal serupa jika volatilitas tak kunjung reda. OJK pun tak tinggal diam, dengan menetapkan aturan baru soal minimum free float 15 persen untuk perusahaan publik.
Memang, kalau melihat sejarah, penurunan status pasar pernah terjadi di negara lain. Tapi DBS menilai skenario itu terlalu ekstrem untuk Indonesia. Sejak 2001, Indonesia konsisten berada di kategori pasar berkembang. Ekonomi kita tumbuh stabil sekitar 5 persen, dan berbagai reformasi struktural telah dilakukan pasca krisis 1997.
Yang menarik, bahkan dalam skenario terburuk sekalipun, Indonesia akan menjadi raksasa di kelompok pasar frontier kapitalisasinya bisa mencapai hampir separuh dari total kapitalisasi pasar frontier global. Salah satu bank kita juga termasuk 10 besar di Asia (luar Jepang) berdasarkan kapitalisasi pasar. Potensinya masih besar.
Daya tarik utama? Valuasi yang sekarang terlihat miring. Rasio P/E IHSG dan LQ45 ada di bawah rata-rata historis. Ditambah lagi, bonus demografi dan momentum komoditas masih jadi pendongkrak jangka panjang.
Karena itulah, DBS tetap merekomendasikan "overweight" untuk saham Indonesia. Koreksi harga yang terjadi justru dilihat sebagai peluang untuk mengumpulkan saham-saham unggulan berkapitalisasi besar. Saran mereka, pertahankan alokasi di pasar domestik, dan manfaatkan momen ketidakpastian ini untuk berburu harga menarik.
Intinya, badai mungkin masih terasa. Tapi fondasi rumah kita masih kokoh. Tinggal bagaimana kita memperkuatnya.
Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
MNC Bank Medan Bagikan Hadiah Cashback Jutaan Rupiah Lewat Program Tabungan Dahsyat Arisan
IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 7.057, Didorong Sektor Barang Baku dan Keuangan
Saham Grup Barito Kompak Melesat, BRPT Tembus ARA Usai Laba Melonjak 803 Persen
Rupiah Terperosok ke Rp17.424 per Dolar AS Imbas Eskalasi Konflik AS-Iran