Di sisi lain, kekhawatiran akan krisis iklim dan kerusakan lingkungan juga disuarakan dengan lantang. Tuntutannya jelas: kebijakan pembangunan ke depan harus lebih berpihak pada keberlanjutan. Buat masa depan mereka dan generasi nanti.
Eddy sendiri melihat ada keselarasan. Aspirasi Gen Z soal lapangan kerja hijau itu, katanya, sejalan dengan inisiatif yang selama ini ia upayakan: mempercepat transisi energi dan pembangunan rendah karbon.
Lebih jauh ia menjabarkan, green jobs di sektor energi terbarukan, transportasi rendah emisi, pengelolaan sampah, sampai industri kreatif hijau, itu cocok banget dengan karakter Gen Z. Generasi yang adaptif teknologi, inovatif, dan punya kesadaran lingkungan tinggi.
Tapi ya, kebijakan menciptakan lapangan kerja hijau itu ga bisa berdiri sendiri. Harus dibarengi dengan pelatihan keterampilan yang memadai, perlindungan bagi tenaga kerja, dan jaminan penghidupan yang layak. Itu kunci utamanya.
Begitu ia menutup pembicaraan. Forum itu mungkin sudah berakhir, tapi percakapan panjang antara pembuat kebijakan dan generasi penerus tampaknya baru saja dimulai.
Artikel Terkait
Es Legen di Pantura Berujung Mencekam: Rp 140 Juta Raib Digasak Maling
Gempa Magnitudo 3,4 Guncang Lumajang Dini Hari
Anggota DPRD Pelalawan Diperiksa Polisi Terkait Ijazah Orang Lain
Politisi Mali Divonis Tiga Tahun Penjara di Pantai Gading Atas Tuduhan Hina Presiden