Suasana di depan kantor PBB di Thamrin, Jakarta, Jumat lalu, cukup tegang. Massa buruh yang berkumpul menyuarakan penolakan keras. Mereka mendesak pemerintah Indonesia untuk segera mundur dari keanggotaan Dewan Perdamaian Gaza, atau yang sering disebut Board of Peace. Alasan mereka sederhana tapi penuh beban: keikutsertaan Indonesia di forum itu dianggap sama saja duduk satu meja dengan Israel.
Presiden Partai Buruh yang juga memimpin KSPI, Said Iqbal, dengan lantang menyampaikan tuntutan itu di hadapan para demonstran.
"Pertama, kami minta Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia keluar dari Dewan Perdamaian Gaza, atau Board of Peace Gaza," tegas Said Iqbal.
Dia melanjutkan dengan nada prihatin. Bergabungnya Indonesia ke dalam dewan itu, menurutnya, adalah langkah yang bertolak belakang dengan sejarah diplomasi Indonesia. "Ini akan membuat Indonesia duduk bersama Israel, negara penjajah Palestina. Sejak merdeka, Indonesia tak pernah mengakui keberadaan Israel di tanah Palestina," ujarnya.
Tak hanya itu, Said Iqbal menyoroti sebuah ironi yang mendasar. Dewan yang dibentuk untuk membahas perdamaian di Gaza itu justru mengabaikan suara utama: bangsa Palestina sendiri. Dia lantas menarik paralel dengan sejarah perjuangan Indonesia.
"Bayangkan saja," katanya, mencoba menggambarkan. "Dewan bentukan Presiden Donald Trump ini tidak melibatkan bangsa Palestina sama sekali. Apa Indonesia mau, andaikan dulu, saat Perjanjian Meja Bundar sekitar 1946, Amerika mengundang Belanda tapi tidak mengundang perwakilan Indonesia untuk bicara soal kemerdekaan kita? Tentu tidak mau!"
Artikel Terkait
Trump Klaim Hamas Siap Serahkan Senjata, Puji Peran dalam Pengembalian Jenazah Sandera
Kebakaran Lahan Gambut di Pelalawan, Tim Gabungan Berjuang Empat Hari di Medan Berat
Menu Bergizi Berujung Petaka, 132 Siswa di Manggarai Barat Keracunan Massal
Dinamika Keraton Solo: PN Solo Kabulkan Ganti Nama, Mangkubumi Fokus Revitalisasi