Blok pemenang suara terbanyak adalah Coordination Framework (CF), koalisi partai Syiah yang punya hubungan dekat dengan Iran. Nah, koalisi inilah yang pada Sabtu lalu mencalonkan al-Maliki. Mereka menyebut usia dan "pengalaman politik serta administratif"nya sebagai alasan.
Renad Mansour dari Chatham House yang sedang berada di Baghdad memberi penjelasan. "Argumen pendukungnya, Irak sedang dalam situasi regional yang genting," katanya. Konflik di Suriah, termasuk soal 7.000 tahanan IS yang dipindah ke Irak, butuh sosok yang sudah biasa menghadapi masalah berat. Bagi mereka, al-Maliki adalah orangnya.
Victoria Taylor dari Atlantic Council punya analisis lain. Menurutnya, pencalonan ini lebih merupakan hasil negosiasi internal elite Irak. "Iran kemungkinan senang, tapi pada akhirnya ini menunjukkan kemampuan al-Maliki mengamankan dukungan dari berbagai politisi Syiah, Sunni, dan Kurdi, yang banyak di antaranya tidak dekat-dekat amat dengan Iran," paparnya.
Di sisi lain, Washington tidak senang. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, dalam percakapan telepon dengan PM sementara Mohammed Shia al-Sudani, menegaskan bahwa pemerintahan yang dikendalikan Iran tak akan bisa memprioritaskan kepentingan Irak sendiri. AS bahkan mengancam memblokir dana penjualan minyak Irak napas perekonomian negara jika anggota milisi pro-Iran masuk pemerintahan. Kritik pedas juga datang dari mantan Presiden Donald Trump lewat media sosial, yang bisa menggagalkan peluang al-Maliki.
Bila Dia Kembali: Potensi Badai
Lantas, bagaimana jika al-Maliki benar-benar kembali? Ramalannya suram. Menurut Karam Nama, penulis Inggris-Irak, ketegangan sektarian antara Sunni, Syiah, dan Kurdi bisa meledak lagi. Bahkan di internal komunitas Syiah sendiri bisa pecah antara yang pro dan kontra.
Gerakan protes pemuda Tishreen yang sempat mereda pasca 2021 juga berpotensi bangkit. "Masa jabatan ketiganya juga kemungkinan akan menghambat normalisasi hubungan dengan Damaskus," tulis Jasim al-Azzawi, penyiar asal Irak. Hubungan dengan AS pun diprediksi akan memasuki fase sulit, di saat Washington justru mendesak Irak mengurangi pengaruh Iran.
Masih Panjang Jalan ke Istana
Tapi jangan buru-buru. Meski sudah dinominasikan, jalan al-Maliki untuk kembali ke kursi perdana menteri masih terjal. "Dia punya dukungan cukup, tapi rintangan besar masih banyak," kata Mansour. Banyak politisi di Baghdad yang dia temui justru terkejut dengan pencalonan ini.
Buktinya, rencana parlemen untuk melanjutkan proses pembentukan pemerintah pada Selasa lalu harus ditunda. Partai-partai Kurdi terbesar, termasuk salah satu yang sebelumnya mendukung al-Maliki, meminta penundaan. Drama politik Irak jelas belum berakhir. Semuanya masih bisa berubah.
Artikel Terkait
Trump Klaim Hamas Siap Serahkan Senjata, Puji Peran dalam Pengembalian Jenazah Sandera
Kebakaran Lahan Gambut di Pelalawan, Tim Gabungan Berjuang Empat Hari di Medan Berat
Menu Bergizi Berujung Petaka, 132 Siswa di Manggarai Barat Keracunan Massal
Dinamika Keraton Solo: PN Solo Kabulkan Ganti Nama, Mangkubumi Fokus Revitalisasi