Kembalinya Al-Maliki: Hantu Masa Lalu dan Badai Politik Irak

- Jumat, 30 Januari 2026 | 12:30 WIB
Kembalinya Al-Maliki: Hantu Masa Lalu dan Badai Politik Irak

Masih segar dalam ingatan, tahun 2014. Saat kelompok ekstremis yang menyebut diri "Islamic State" (IS) menggulung masuk ke Mosul, ada sebagian warga kota di Irak utara itu yang justru menyambut. Mereka lelah. Pemerintah pusat di Baghdad yang didominasi Syiah di bawah Nouri al-Maliki dianggap telah meminggirkan mereka, komunitas Sunni. Bagi sebagian orang, IS yang berhaluan Sunni ultrakonservatif itu diharapkan jadi pelindung.

Namun begitu, euforia itu cuma bertahan beberapa bulan. Wajah asli IS segera tampak: brutal, penuh kekerasan dan eksekusi. Mosul berubah jadi simbol kekejaman. Dan al-Maliki, sang perdana menteri Syiah yang berkuasa sejak 2006, kerap jadi sasaran tudingan. Dia dituding memicu ketegangan sektarian dan gagal membendung laju IS. Militer Irak saat itu lunglai akibat korupsi bertahun-tahun. Banyak serdadu yang memilih kabur.

Kini, hampir sepuluh tahun setelah IS ditumpas di Irak, situasinya berbalik. Koalisi partai Syiah di Baghdad justru memandang al-Maliki bukan sebagai kegagalan. Politikus berusia 75 tahun yang lengser pada 2014 itu malah dinominasikan sebagai calon perdana menteri berikutnya. Peluangnya untuk kembali berkuasa terbuka.

Suara-Suara yang Menentang

"Irak akan hadapi bencana jika al-Maliki kembali berkuasa," kata Rasli al-Maliki, seorang pengamat politik yang sering muncul di TV Irak. Dia menegaskan tidak ada hubungan keluarga dengan sang mantan PM.

"Al-Maliki bertanggung jawab atas jatuhnya tiga provinsi ke tangan [IS] … dialah penyebab tewasnya 40.000 martir dari seluruh Irak," ujarnya, suaranya tegas. "Dialah yang membuka jalan bagi dominasi Iran atas negara ini."

Khitab al-Tamimi, aktivis masyarakat sipil dari Provinsi Salahuddin, juga heran. "Mengapa memilih figur yang begitu kontroversial?" tanyanya.

"Kami sudah mulai mendengar kembali narasi sektarian dalam dialog politik," keluhnya. "Kami telah berkorban begitu banyak. Kami tidak akan mundur. Sebagai bagian dari komunitas Sunni, saya tahu kami akan menentang ini."

Lobi, Negosiasi, dan Kalkulasi Kekuasaan

Jadi, mengapa al-Maliki dinominasikan? Ceritanya tidak sesederhana hasil pemilu. Irak memang menggelar pemilu parlemen November lalu, dan partai-partai Syiah meraih mayoritas. Tapi proses pembentukan pemerintahannya selalu rumit, lebih ditentukan oleh lobi dan bagi-bagi kue kekuasaan antar elite.


Halaman:

Komentar