"Kadang saya berpikir, apa saya memang mau menetap di sini?" ujarnya, sambil membandingkan dengan teman-temannya yang pindah ke Kanada dan sudah dapat kewarganegaraan. "Saya masih harus melalui semua ini setelah enam setengah tahun."
Pengalaman Zahra, menurut Björn Maibaum, seorang pengacara spesialis hukum migrasi di Köln, adalah hal yang biasa. "Sayangnya, ini terjadi di seluruh Jerman," katanya.
Kantornya menangani sekitar 2.000 kasus serupa tiap tahun, berusaha mempercepat prosedur yang berbelit. Kliennya beragam, dari dokter, perawat, sampai sopir truk.
Masalah utamanya, kata Maibaum, adalah kantor imigrasi yang kekurangan staf. Akibatnya, pemohon bisa mengantri berbulan-bulan, bahkan setahun. "Ini bikin frustrasi. Dan ini bukan pesan yang baik untuk dunia saat kita sedang bersaing merebut tenaga kerja," tegasnya.
Politik dan Ketidakpuasan
Data terbaru menunjukkan sekitar 160.000 orang asing dengan izin tinggal tercatat sebagai pekerja terampil di Jerman. Namun, kantor yang sama juga harus menangani gelombang permohonan suaka dari jutaan pengungsi akibat perang di Suriah dan Ukraina.
Sistem yang belum sepenuhnya digital membuat semuanya berjalan lambat. Gelombang pengungsi yang besar dan kegagalan integrasi mereka ke pasar kerja memicu ketidakpuasan publik.
Dampaknya jelas: dukungan untuk partai sayap kanan anti-imigran, Alternative for Deutschland (AfD), semakin menguat.
Rasisme dan Kerinduan
Kayalvly Rajavil sedang memeriksa pasien di Klinik BDH di Vallendar, kota kecil di Rhineland-Pfalz. Rumah sakit spesialis rehabilitasi neurologi ini banyak mempekerjakan perawat asing.
Rajavil sendiri berasal dari Tamil Nadu dan baru beberapa bulan di Jerman. "Bahasa Jerman awalnya sangat sulit," akunya. "Tapi atasan dan rekan saya banyak membantu. Mereka menghormati kami."
Dia adalah satu dari sekitar 40 perawat dari India dan Sri Lanka yang direkrut klinik ini dalam beberapa tahun terakhir. Biaya perekrutan per orang melalui agen tidak murah, bisa mencapai 12.000 euro.
Jörg Biebrach, kepala staf perawat di sana, mengakui bahwa sentimen anti-asing jadi masalah nyata. "Kami semakin sering ditanya tentang perkembangan politik, termasuk tentang partai-partai tertentu," ujarnya. Semakin sulit membuat karyawan asing merasa diterima.
Faktor lain seperti rindu kampung halaman, masalah keluarga, dan gegar budaya juga sering membuat mereka tidak betah setelah kontrak dua tahun pertama berakhir.
Untuk bersaing, klinik itu kini menawarkan program magang bagi lulusan SMA India. Cara ini memotong proses rekrut yang biasanya makan waktu sembilan bulan, sekaligus menghindari birokrasi akreditasi kualifikasi yang ruwet setiap negara bagian di Jerman punya aturan sendiri-sendiri.
Bierbach berpendapat, otoritas imigrasi harus bergerak lebih cepat dan aturannya diseragamkan. "Semua orang bilang Jerman butuh pekerja terampil. Tapi kita masih belum menyambut mereka dengan baik," tegasnya. Titik.
Artikel Terkait
Dinamika Keraton Solo: PN Solo Kabulkan Ganti Nama, Mangkubumi Fokus Revitalisasi
Trump Pertimbangkan Serangan Terarah untuk Dukung Demonstran Iran
Krisis Air Ancam RSUP M. Djamil, Pemerintah Gerak Cepat Bor Sumur Cadangan
Bupati Bogor Ungkap Kendala Perbaikan Jalan di Tengah Hujan