Di sisi lain, data dari kelompok pemantau HAM semakin menguatkan gambaran suram itu. Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di AS, menyatakan mereka telah memverifikasi lebih dari 6.200 kematian sejak aksi unjuk rasa antipemerintah meledak akhir Desember tahun lalu.
Namun begitu, angka sesungguhnya diduga jauh lebih besar. Pemadaman internet yang masih berlangsung di sana membuat verifikasi jadi sulit, nyaris mustahil. Aktivis di lapangan hanya bisa menduga-duga, sambil terus menerima kabar buruk yang bertambah.
Tak cuma kritik, Merz juga mendorong langkah konkret. Ia mendukung penuh inisiatif Italia yang mendesak Uni Eropa untuk menetapkan Korps Garda Revolusi Islam Iran, atau IRGC, sebagai organisasi teroris. Langkah ini, jika terwujud, akan memberi tekanan politik dan ekonomi yang lebih berat pada Tehran.
Suasana memang semakin memanas. Ancaman dari Washington, kecaman dari Berlin, dan deretan angka korban jiwa yang terus membengkak semuanya seolah menandai sebuah babak baru yang kritis untuk Iran.
Artikel Terkait
Banjir Duta Kranji Surut, Ancaman dari Hulu dan Hilir Masih Mengintai
Angngaru Bugis-Makassar Sambut Kaesang di Pembukaan Rakernas PSI
KPK Periksa Orang Kepercayaan Ridwan Kamil Terkait Korupsi Iklan BJB
Banjir Rendam 41 Desa di Bekasi, Ribuan Warga Mengungsi