"Potensinya masih ada. Tinggal nunggu, apakah bakal ada 'bedol desa' lanjutan atau nggak. Soalnya dalam politik, pindah atau bertahan itu hitung-hitungannya ya untung rugi politik belaka," katanya menjelaskan.
Di sisi lain, NasDem dituntut untuk cepat bertindak. Partai itu harus segera cari cara biar jagoan-jagoannya nggak pada kabur. Menurut Adi, migrasi semacam ini biasanya terjadi ketika ada kebuntuan di internal.
"Politik itu kan seni bernegosiasi. Kalau ada kebuntuan, ya harus dicari solusinya. Nggak bisa didiamin," pungkas Adi.
Jadi, fenomena hijrahnya kader-kader ini memang terasa seperti efek domino. Dimulai dari satu nama besar, lalu diikuti yang lain. NasDem jelas perlu waspada. Kalau nggak, bisa-bisa mereka kehilangan lebih banyak orang lagi.
Artikel Terkait
Tim DVI Berhasil Identifikasi 34 Korban Longsor Cisarua
Tragis di Perlintasan Kebumen, Truk Tergulung KA Gejayana
Polda Metro Jaya Gelar Operasi Pekat Jaya 2026, Amankan Ibu Kota Jelang Ramadhan
Jakarta Siagakan Ribuan Personel Amankan Aksi Buruh