Poros Baru di Timur Tengah: Saudi dan Mesir Rangkul Somalia dalam Pakta Pertahanan

- Selasa, 27 Januari 2026 | 12:50 WIB
Poros Baru di Timur Tengah: Saudi dan Mesir Rangkul Somalia dalam Pakta Pertahanan

Pada Desember lalu, Arab Saudi bahkan menyerang kamp militer Dewan Transisi Selatan di Yaman, sebuah kelompok yang didukung oleh Uni Emirat Arab. Belum lama ini, Riyadh juga dilaporkan menawarkan kesepakatan senjata senilai 1,5 miliar dolar AS kepada militer Sudan. Paket itu termasuk jet tempur dari Pakistan, yang bisa digunakan melawan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Darfur. Nah, kelompok RSF ini sendiri diduga kuat dipersenjatai oleh Uni Emirat Arab, meski Abu Dhabi membantahnya.

Tentu saja, Abu Dhabi tidak tinggal diam. Mereka merespons dengan cara sendiri: menjalin perjanjian komprehensif dengan India. Ini menarik, karena India adalah rival geopolitik Pakistan. Kesepakatan itu tak hanya soal perdagangan gas, tapi juga kerja sama nuklir yang erat.

"Saya pikir kesepakatan Uni Emirat Arab–India bukan semata soal teknologi militer, tetapi juga pernyataan politik," kata Hamdi.

"Di tengah keretakan dengan Arab Saudi, Uni Emirat Arab ingin menunjukkan kekuatan. Ya, Arab Saudi mungkin lebih besar secara geografis, tetapi Uni Emirat Arab tetap memiliki posisi internasional," tambahnya.

Tapi, Akankah Mereka Benar-Benar Berpisah?

Meski tarik-menarik kepentingan ini terlihat rumit, beberapa analis meragukan akan terjadi perpecahan total. Cinzia Bianco dari European Council on Foreign Relations menilai, sulit membayangkan Riyadh dan Abu Dhabi benar-benar berpisah dalam waktu dekat.

"Keduanya Uni Emirat Arab dan Arab Saudi sama-sama duduk di Dewan Perdamaian Donald Trump," tuturnya.

Bianco juga mengingatkan bahwa jaringan aliansi ini saling bertaut. Turki, calon mitra baru Saudi, ternyata masih punya hubungan baik dengan Uni Emirat Arab. Jadi, menurutnya, pakta-pakta pertahanan baru ini tidak serta-merta akan memicu perpecahan besar. Apalagi, Amerika Serikat masih menjadi faktor penentu.

"Jika kita berbicara tentang geopolitik koalisi, Anda juga tidak bisa bergerak jauh tanpa Amerika Serikat di pihak Anda," katanya.

Faktanya, Uni Emirat Arab adalah sekutu militer AS yang penting, dengan banyak pangkalan di sana. Sementara hubungan AS dan Arab Saudi juga sedang mesra, terbukti dari berbagai kesepakatan besar yang ditandatangani dalam kunjungan Trump ke Riyadh.

Dengan kondisi itu, pengaruh pakta-pakta baru ini mungkin tetap terbatas. Gagasan "NATO Islam" dinilai terlalu berlebihan.

"Gagasan tentang NATO Islam sedikit berlebihan," ujar Hamdi.

Menurut dia, perbedaan ideologis dan kepentingan di antara negara-negara tersebut masih sangat besar. "Kesepakatan-kesepakatan ini lebih berkaitan dengan transfer teknologi dan upaya mengejar otonomi tertentu," pungkasnya.

Jadi, meski roda politik terus berputar, perubahan besar mungkin masih harus ditunggu. Semua masih bermain di wilayah yang sama, dengan sekutu lama yang masih punya pengaruh kuat.


Halaman:

Komentar