“Dalam hal ini saya tegaskan di hadapan Bapak-Bapak Ibu-Ibu sekalian dan seluruh jajaran, bahwa saya menolak polisi di bawah kementerian,” tegasnya.
Bahkan, dengan nada sedikit bercanda namun serius, Sigit menyatakan pilihannya yang lain. “Lebih baik saya jadi petani,” ucapnya, seperti dikutip dari rangkuman rapat kerja tersebut.
Di sisi lain, Sigit juga memaparkan landasan historis dan konstitusional dari posisi Polri saat ini. Dia mengingatkan, amanat reformasi 1998-lah yang memisahkan Polri dari ABRI dan menempatkannya langsung di bawah Presiden. Perjalanan institusi ini panjang; pernah di bawah Kemendagri, lalu Perdana Menteri, dan sempat menyatu dengan ABRI dengan pendekatan militeristik.
“Dan di situ diperingati sebagai Hari Bhayangkara. Kemudian, tahun 1966 sampai 1998 Polri tergabung dengan ABRI dengan tugas dan pendekatan yang lebih militeristik,” jelasnya.
Pasca reformasi, perubahan besar terjadi. Posisi di bawah Presiden ini, menurut Sigit, sangat tepat mengingat tantangan keamanan di Indonesia yang begitu kompleks. Luas wilayah yang terhampar dari “London sampai Moskow”, seperti pernah disampaikan Presiden, membutuhkan fleksibilitas dan kedekatan komando.
“Artinya dengan posisi seperti ini, maka sangat ideal kalau Polri berada langsung di bawah Presiden sehingga di dalam melaksanakan tugasnya Polri akan lebih maksimal dan lebih fleksibel,” ujarnya meyakinkan.
Sembari menegaskan penolakannya, Sigit juga menyampaikan capaian kinerja Polri. Angkanya cukup tinggi, mencapai 91,54% di tahun 2025. Untuk tahun depan, rencana kerja sudah disusun dalam 6 strategis besar dengan 17 indikator kinerja yang lebih detail.
Pesan akhirnya jelas: Polri ingin tetap lincah dan langsung bertanggung jawab pada pimpinan tertinggi negara. Perubahan struktur, dalam pandangannya, hanya akan menambah birokrasi dan mengurangi efektivitas. Dan untuk dirinya sendiri, jabatan menteri bukanlah sebuah daya tarik.
Artikel Terkait
Titik Terang Kasus Guru SD Depok: Polisi Burut Pacar sebagai Tersangka
Pramono Anung Targetkan Normalisasi Kali Cakung Rampung 2027
Nasib Thomas Djiwandono di BI Ditentukan dalam Rapat Paripurna DPR
Kapal Induk AS Merapat di Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran Kian Meningkat