Setelah sukses dijalankan sebagai proyek percontohan, program 'Keluarga Siaga Dukung Kesehatan, Siap Hadapi Masa Depan' atau SIGAP akhirnya melangkah lebih jauh. Kini, program ini resmi diperluas ke tiga wilayah baru: Brebes, Sukabumi, dan Banjar. Intinya, SIGAP ingin mendukung upaya pemerintah dalam menguatkan kesehatan keluarga lewat tiga pilar utama: imunisasi lengkap, kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), dan pemenuhan gizi untuk anak di bawah dua tahun.
Perluasan ini dijalankan lewat kemitraan yang cukup unik, menggabungkan organisasi global seperti Gavi dan Unilever Lifebuoy dengan pemerintah pusat dan daerah. Caranya? Memperkuat layanan yang sudah ada di akar rumput. Posyandu, kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan, bahkan grup-grup orang tua di PAUD dan platform digital, semua dimanfaatkan agar pesan-pesan kesehatan itu lebih mudah dicerna dan diterapkan dalam keseharian.
Dalam sebuah acara yang membahas pembelajaran dari SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan keselarasan program ini dengan prioritas nasional.
"Di Kementerian Kesehatan, prioritas kita ada di Pilar Pertama: Layanan Primer, yang fokus pada upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).
Nah, dari fase perluasan ini, tercatat beberapa pembelajaran kunci. Ternyata, perubahan perilaku yang terintegrasi lewat layanan primer bisa memberikan hasil yang signifikan, asal didukung dengan pendekatan yang tepat dan konsisten.
Imunisasi: Kepercayaan Naik, Cakupan Melonjak
Di sektor imunisasi, SIGAP berhasil mendongkrak cakupan rata-rata sekitar 15% di ketiga kabupaten. Pencapaian di Banjar cukup mencengangkan, melonjak dari 37% menjadi 59%. Artinya, hampir 6 dari 10 anak kini sudah mendapat perlindungan. Yang menarik, kepercayaan terhadap vaksin juga ikut naik. Ini terlihat dari cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang nyaris menyentuh 80%.
Menurut Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships Gavi, peningkatan ini tak lepas dari cara penyampaian pesannya.
"Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia," terangnya.
Pendekatan terpadu ini rupanya membuat orang tua lebih paham dan menerima efek samping ringan vaksin, sehingga mereka lebih patuh pada jadwal. Bahkan, lebih dari 80% pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk mendapat pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.
Cuci Tangan: Dari Sekadar Tahu Jadi Kebiasaan
Sementara untuk CTPS, perubahan perilaku ternyata berjalan lebih cepat ketika keluarga punya motivasi dan sarana yang memadai. Sekitar 7% lebih banyak rumah tangga peserta SIGAP kini punya fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabun. Hal sepele ini ternyata besar dampaknya.
Artikel Terkait
Damai Laporkan Ahmad Khozinudin ke Polda, Gerah dengan Tuduhan KUHAP Solo
Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan di Sumatera, Satgas: Ini Keputusan Final
Tiga Desa Nunukan Terseret ke Malaysia, Pemerintah Siapkan Solusi
Sigit Tolak Jabatan Menteri: Lebih Baik Saya Jadi Petani