Program SIGAP Meluas, Imunisasi dan Gizi Anak di Tiga Daerah Terus Didorong

- Senin, 26 Januari 2026 | 13:00 WIB
Program SIGAP Meluas, Imunisasi dan Gizi Anak di Tiga Daerah Terus Didorong

Setelah sukses dijalankan sebagai proyek percontohan, program 'Keluarga Siaga Dukung Kesehatan, Siap Hadapi Masa Depan' atau SIGAP akhirnya melangkah lebih jauh. Kini, program ini resmi diperluas ke tiga wilayah baru: Brebes, Sukabumi, dan Banjar. Intinya, SIGAP ingin mendukung upaya pemerintah dalam menguatkan kesehatan keluarga lewat tiga pilar utama: imunisasi lengkap, kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS), dan pemenuhan gizi untuk anak di bawah dua tahun.

Perluasan ini dijalankan lewat kemitraan yang cukup unik, menggabungkan organisasi global seperti Gavi dan Unilever Lifebuoy dengan pemerintah pusat dan daerah. Caranya? Memperkuat layanan yang sudah ada di akar rumput. Posyandu, kunjungan rumah oleh tenaga kesehatan, bahkan grup-grup orang tua di PAUD dan platform digital, semua dimanfaatkan agar pesan-pesan kesehatan itu lebih mudah dicerna dan diterapkan dalam keseharian.

Dalam sebuah acara yang membahas pembelajaran dari SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan keselarasan program ini dengan prioritas nasional.

"Di Kementerian Kesehatan, prioritas kita ada di Pilar Pertama: Layanan Primer, yang fokus pada upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (19/1/2026).

Nah, dari fase perluasan ini, tercatat beberapa pembelajaran kunci. Ternyata, perubahan perilaku yang terintegrasi lewat layanan primer bisa memberikan hasil yang signifikan, asal didukung dengan pendekatan yang tepat dan konsisten.

Imunisasi: Kepercayaan Naik, Cakupan Melonjak

Di sektor imunisasi, SIGAP berhasil mendongkrak cakupan rata-rata sekitar 15% di ketiga kabupaten. Pencapaian di Banjar cukup mencengangkan, melonjak dari 37% menjadi 59%. Artinya, hampir 6 dari 10 anak kini sudah mendapat perlindungan. Yang menarik, kepercayaan terhadap vaksin juga ikut naik. Ini terlihat dari cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang nyaris menyentuh 80%.

Menurut Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships Gavi, peningkatan ini tak lepas dari cara penyampaian pesannya.

"Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia," terangnya.

Pendekatan terpadu ini rupanya membuat orang tua lebih paham dan menerima efek samping ringan vaksin, sehingga mereka lebih patuh pada jadwal. Bahkan, lebih dari 80% pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk mendapat pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.

Cuci Tangan: Dari Sekadar Tahu Jadi Kebiasaan

Sementara untuk CTPS, perubahan perilaku ternyata berjalan lebih cepat ketika keluarga punya motivasi dan sarana yang memadai. Sekitar 7% lebih banyak rumah tangga peserta SIGAP kini punya fasilitas cuci tangan lengkap dengan sabun. Hal sepele ini ternyata besar dampaknya.

Lingkungan yang mendukung itu berkontribusi pada peningkatan kepatuhan cuci tangan di momen-momen kritis seperti sebelum menyuapi anak sebesar 6,4%. Alasan mencuci tangan juga bergeser, bukan lagi sekadar ikutan, tapi benar-benar untuk kesehatan. Yang menggembirakan, keterlibatan ayah meningkat 13%, menandakan bahwa menjaga kebersihan adalah tanggung jawab kedua orang tua.

Global Brand Director Lifebuoy, Parnil Sarin, menanggapi capaian ini dengan optimis.

"SIGAP menunjukkan bagaimana perilaku perlindungan utama, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun, dan gizi, dapat menjadi kebiasaan nyata ketika keluarga bisa melihat, merasakan, dan mempraktikkannya dalam rutinitas sehari-hari. Dengan memperluas pembelajaran dari rumah dan sekolah ke platform digital serta media massa, program ini membantu mempertahankan perilaku tersebut dalam skala yang lebih luas dan menjadikan CTPS bagian dari perjalanan kesehatan anak," jelasnya.

Perbaikan Gizi, Dimulai dari Rumah

Di bidang gizi, program ini juga mencatat kemajuan. Praktik pemberian makan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan menunjukkan tren positif. Inisiasi menyusu dini naik 4,4%, sementara jumlah anak yang mengonsumsi makanan beragam minimal meningkat hingga 6,8%.

Kunci keberhasilannya? Alat bantu yang praktis dan mudah dipakai orang tua. Sebanyak 96% pengguna mengakui bahwa alat pelacak gizi dari SIGAP membantu mereka memahami pola makan anak, termasuk mengontrol camilan kurang sehat dan mendorong peran aktif ayah dan ibu.

CEO The Power of Nutrition, Chris Skeet, menilai kolaborasi adalah inti dari semua ini.

"SIGAP mencerminkan kekuatan kemitraan dalam mendukung gizi di tempat yang paling penting, yaitu di rumah, setiap hari. Dengan menggabungkan alat praktis, pembelajaran bersama bagi orang tua, dan keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan, program ini menunjukkan bagaimana pesan berbasis bukti dan komunikasi perubahan perilaku dapat membantu keluarga mempertahankan praktik pemberian makan yang lebih sehat dan membangun ketahanan jangka panjang," tuturnya.

Dari Lapangan Hingga ke Layar Kaca

Untuk memperluas jangkauan, SIGAP tak hanya mengandalkan pertemuan tatap muka. Fase scale-up ini juga gencar memanfaatkan media dan platform digital. Dalam periode tujuh bulan di 2025, iklan layanan masyarakat mereka menjangkau lebih dari 4,7 juta orang lewat televisi.

Gebrakan di media sosial juga tak kalah massive. Konten SIGAP mencatat lebih dari 1,14 miliar impresi di tiga provinsi. Di YouTube, ada 8,1 juta tayangan selesai, sementara iklan bumper singkat enam detik ditonton lebih dari 130 juta kali. Kampanye di Instagram dan Facebook bahkan menghasilkan 722 juta impresi dengan jangkauan melebihi 40 juta orang. Tak ketinggalan, konten dari para influencer berhasil menyentuh hampir 30 juta orang di Instagram dan TikTok.

Dengan kombinasi pendekatan komunitas, pelatihan, dan dukungan media digital yang masif, SIGAP dirancang untuk jadi program yang berkelanjutan. Pembelajaran dari fase perluasan ini diharapkan bisa menjadi pijakan agar semakin banyak keluarga Indonesia yang menerapkan perilaku hidup sehat, demi masa depan anak-anak yang lebih cerah.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar