Pemungutan suara tahap terakhir Pemilu di Myanmar akhirnya berakhir. Proses yang berjalan selama sebulan penuh itu, menurut laporan, dimenangkan secara telak oleh partai-partai yang mendukung militer. Kemenangan ini, di mata banyak pengamat, cuma akan memperkuat cengkeraman Junta militer terhadap kekuasaan.
Menurut sejumlah saksi, pemungutan suara ditutup di puluhan daerah pemilihan. Waktunya pun terasa ironis: hanya selang seminggu sebelum peringatan lima tahun kudeta militer yang menggulingkan pemerintahan sipil.
Junta memang selalu berjanji bahwa pemilu ini akan mengembalikan kekuasaan kepada rakyat. Tapi kenyataannya? Aung San Suu Kyi, simbol demokrasi negara itu, sama sekali dikesampingkan. Partainya yang dulu begitu populer, sudah dibubarkan. Makanya, tidak heran kalau para pendukung demokrasi menyebut pemilu ini penuh dengan sekutu-sekutu militer belaka.
Di sisi lain, pemimpin Junta Min Aung Hlaing tampak santai. Ia berkunjung ke sebuah tempat pemungutan suara di Mandalay, kali ini dengan mengenakan pakaian sipil, bukan seragam.
"Ini adalah jalan yang dipilih oleh rakyat,"
katanya kepada para wartawan, menanggapi sebuah pertanyaan.
Artikel Terkait
Video Bantah Klaim Resmi: Tewas Ditembak Petugas Imigrasi Saat Bantu Pengunjuk Rasa
AHY Tinjau Ulang Lubuk Sidup, Janji Pemulihan Mulai Terwujud
Korban Longsor Cisarua Bertambah, 11 Jenazah Berhasil Diidentifikasi
BRI Peduli Turun Tangan, Perangi Stunting dari Hulu