Pernah nggak sih, rasanya semua energi habis begitu saja? Mau ngapa-ngapain malas. Itu wajar, kok. Hidup memang nggak pernah berjanji akan berjalan mulus. Seringkali, kerja keras yang sudah kita lakukan justru berujung pada kegagalan. Harapan pun terasa menjauh. Tapi, di sinilah tantangannya: justru dalam momen-momen berat itu, kita sering menemukan kekuatan yang selama ini terpendam. Peluang untuk tumbuh selalu ada, meski tersembunyi di balik kesulitan.
Nah, ada satu kesalahan umum yang sering kita lakukan. Kita menunggu motivasi datang dulu, baru bertindak. Padahal, kenyataannya sering terbalik. Motivasi itu biasanya baru muncul "setelah" kita memulai. Jadi, jangan tunggu mood. Lakukan saja satu tindakan kecil sekarang. Siapa tahu, dari sanalah dampak besar dimulai.
Di sisi lain, kita hidup di era di mana kesuksesan orang lain terpampang nyaris instan di media sosial. Kita lihat hasil akhirnya, tapi jarang yang tahu soal perjalanan panjang penuh tikungan dan jalan buntu yang mereka lalui. Proses itu hampir selalu tak terlihat. Makanya, membandingkan diri dengan sorotan itu sangat melelahkan dan tidak adil. Setiap orang punya peta waktunya sendiri. Fokuslah pada trekmu.
Menurut pengamatan banyak orang, motivasi juga lebih mudah dijaga ketika kita punya tujuan yang jelas. Kalau kita tahu untuk apa kita berjuang, rasa lelah itu jadi punya makna. Kita jadi lebih tahan banting. Selain itu, cobalah berdamai dengan kegagalan. Anggap saja itu sebagai guru yang keras kepala, yang mengajarkan apa yang perlu dibenahi. Banyak tokoh sukses kan, sejarahnya justru dipenuhi oleh kegagalan berulang sebelum akhirnya menang.
Lingkungan sekitar kita punya pengaruh yang luar biasa. Coba deh, kalau kita dikelilingi orang-orang yang suportif dan berpikiran positif, rasanya jatuh bangun jadi lebih ringan. Tapi, kalau lingkunganmu kurang mendukung, ya mulai dari diri sendiri. Bangunlah percakapan yang baik dengan dirimu. Kata-kata yang kita ucapkan pada diri sendiri itu punya kekuatan, lho. Bisa menyemangati, tapi juga bisa meruntuhkan.
Jangan lupa, istirahat itu bukan kemewahan. Itu kebutuhan. Memaksa diri terus-terusan tanpa jeda justru bisa mematikan semangat. Beri apresiasi pada diri sendiri untuk setiap usaha yang sudah dilakukan, sekecil apapun itu. Istirahat bukan tanda kelemahan, melainkan strategi untuk mengisi ulang tenaga sebelum kembali berjalan.
Pada akhirnya, motivasi yang sejati bukan tentang selalu merasa semangat 24 jam. Bukan. Ini tentang kemampuan untuk tetap melangkah, meski di dalam hati ada ketakutan dan keraguan. Setiap hari adalah halaman baru. Selama kita masih mau mencoba, harapan akan selalu punya cara untuk menemukan kita.
Artikel Terkait
LPDP Perketat Pengawasan, 600 Penerima Beasiswa Diselidiki atas Dugaan Pelanggaran
Jadwal Imsak dan Anjuran Sahur di Banjarmasin pada 24 Februari 2026
Pelajar Tewas Diduga Dianiaya Oknum Brimob di Tual, Tersangka Sudah Ditahan
Nadiem Makarim Serukan Anak Muda Tak Putus Asa dengan Indonesia di Tengah Sidang Korupsi