Ketegangan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) kembali memanas. Kali ini, pemicunya adalah gelombang kampanye media dari pihak Saudi yang gencar menyasar tetangganya itu. Banyak yang bilang, ini adalah perselisihan paling seru di kawasan Teluk dalam beberapa tahun belakangan. Dan tentu saja, situasi ini bikin was-was, terutama bagi pusat keuangan Timur Tengah yang selama ini mengandalkan stabilitas.
Menurut AFP, laporan-laporan bernada keras sudah bertebaran berminggu-minggu. Tuduhan pelanggaran HAM sampai isu pengkhianatan bergaung di media pemerintah dan media sosial. Semua ini berawal dari konflik singkat di Yaman, di mana serangan udara Saudi berhasil meredam gerakan separatis yang diduga dapat dukungan dari UEA.
Televisi Al-Ekhbariya milik Saudi bahkan tak segan menuding.
"Uni Emirat Arab 'berinvestasi dalam kekacauan dan mendukung separatis' dari Libya hingga Yaman dan Tanduk Afrika," begitu bunyi laporan mereka.
Kecaman terbuka seperti ini jarang terdengar. Terakhir kali mungkin saat Saudi dan UEA bersama-sama memblokade Qatar bertahun-tahun silam, mulai 2017. Kini, mereka yang dulu sekutu justru saling serang.
Anna Jacobs, seorang analis keamanan di kawasan Teluk, mencermati fenomena ini. Biasanya, monarki-monarki Teluk sangat menjaga image damai dan stabil. Tapi kali ini berbeda. Titik-titik gesekan yang selama ini tersembunyi, katanya, "terungkap secara terbuka dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya."
Artikel Terkait
Pemilu Myanmar Usai, Kemenangan Telak Dirayakan Junta di Tengah Kontroversi
Gus Ipul Soroti Data sebagai Kunci Pemberdayaan Disabilitas di HUT Pertuni
Polisi Imbau Publik Jaga Empati, Data Pribadi Lula Lahfah Jangan Disebar
Misteri Kematian Lula Lahfah: Polisi Tunggu Kunci Jawaban dari Laboratorium