Dini hari Sabtu lalu, Desa Pasirlangu di Bandung Barat diguncang bencana. Tanah longsor yang tiba-tiba menerjang permukiman warga, meninggalkan duka dan kehancuran. Kini, proses pencarian dan evakuasi masih terus berlangsung, sementara bantuan mulai berdatangan untuk meringankan beban korban.
Menurut laporan sementara, musibah ini telah merenggut nyawa delapan orang. Lima di antaranya sudah dapat diidentifikasi: Nurhayati (50), Sunarya yang akrab dipanggil Nandang (50), Nining, Jajang Taryana (35), dan Dadang Apung. Korban jiwa bukan satu-satunya duka. Sedikitnya 33 orang menderita luka berat, 35 lainnya luka ringan. Yang membuat hati semakin pilu, 82 orang masih dinyatakan hilang dan terus dicari oleh tim gabungan.
Merespon tragedi ini, Kementerian Sosial langsung bergerak. Mereka tak hanya mendata korban dengan cermat, tetapi juga mengirimkan bantuan logistik tambahan untuk memenuhi kebutuhan mendesak di lokasi bencana.
“Pendataan korban dan ahli waris terus dilakukan secara bertahap agar penyaluran santunan dapat dilaksanakan sesuai ketentuan,”
kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, dalam keterangannya Minggu (25/1/2026).
Ahli waris korban meninggal berhak mendapat santunan Rp 15 juta, sementara korban luka berat akan menerima Rp 5 juta.
Bencana ini berdampak pada 113 jiwa dari 34 kepala keluarga. Mereka kini terpaksa mengungsi, kebanyakan menempati aula Kantor Desa Pasirlangu. Untuk memastikan perut mereka terisi, Dinas Sosial dan relawan Tagana segera mendirikan dapur umum lapangan di SDN 1 Pasirlangu, tak jauh dari kantor desa.
Lalu, apa yang memicu longsor dahsyat ini? Menurut analisis sementara, hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Cisarua sejak Jumat menjadi pemicu utamanya. Kondisi tanah di lereng-lereng curam itu sudah jenuh air, akhirnya bergeser dan menimbun rumah-rumah warga di Kampung Pasirkuning. Kawasan itu memang dikenal rawan.
Upaya pencarian tak kenal lelah dilakukan oleh gabungan Basarnas, BPBD, TNI-Polri, dan berbagai unsur terkait. Korban luka dan meninggal yang berhasil ditemukan telah dievakuasi ke Rumah Sakit Cisarua. Warga yang rumahnya berada di zona berbahaya juga telah diarahkan untuk mengungsi, baik ke posko yang disediakan maupun ke rumah saudara terdekat.
Di sisi lain, bantuan dari pusat terus mengalir. Sejak Sabtu, Gudang Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat telah mendistribusikan berbagai barang ke lokasi. Bantuannya cukup lengkap, mulai dari tenda serbaguna dan tenda keluarga, ratusan lembar kasur dan selimut, hingga ratusan paket makanan siap saji untuk dewasa dan anak. Tak ketinggalan, paket sandang serta perlengkapan dasar keluarga juga disiapkan.
“Kementerian Sosial hadir untuk memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi serta mendukung penanganan darurat yang dilakukan bersama pemerintah daerah dan unsur terkait,” tegas Gus Ipul.
Saat ini, fokus utama masih pada pencarian puluhan warga yang hilang. Setiap detik berharga. Bersamaan dengan itu, petugas sosial di lapangan juga sibuk melakukan asesmen dan pendataan lanjutan, memastikan tidak ada seorang pun yang terlewat dari bantuan. Situasinya masih sangat dinamis, dan semua pihak berharap ada kabar baik di tengah kesedihan ini.
Artikel Terkait
Polisi Jerman Bubarkan Hells Angels Leverkusen, Sita Aset Rp43 Miliar dalam Operasi Besar
Anggota DPR Dorong Penyediaan Air Bersih dan Fasilitas Olahraga di Lapas Perempuan Jayapura
Kereta Bathara Kresna Terpaksa Berhenti di Solo karena Mobil Land Cruiser Parkir Terlalu Dekat Rel
Taksi Listrik Mogok Korsleting di Perlintasan, Picu Tabrakan Beruntun Kereta Api di Bekasi Timur