Tak cuma itu, ia juga mengulang klaim lamanya bahwa NATO takkan membantu AS jika diperlukan. Klaim yang, bagi banyak diplomat Eropa, terdengar menggelikan.
Nyatanya, situasinya sangat berbeda. Pasca serangan 2001, Inggris dan sekutu-sekutu lain justru langsung bergabung dengan AS di Afghanistan. Mereka datang setelah AS mengaktifkan klausul pertahanan kolektif NATO. Jadi, bukan cuma sekadar "beberapa pasukan" yang dikirim.
Dan korban jiwa pun bukan hanya dari Inggris. Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Denmark dan banyak negara sekutu lainnya juga kehilangan prajuritnya di medan perang yang sama. Mereka bertempur, berdarah-darah, dan banyak yang tidak pulang.
Jadi, komentar Trump ini bukan cuma dianggap salah fakta. Bagi banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya di Afghanistan, pernyataan itu terasa seperti penghinaan. Sebuah pengabaian atas pengorbanan yang sebenarnya terjadi di garis depan.
Artikel Terkait
Gubernur Andra Soni Tinjau Banjir Tangerang Naik Perahu Karet
Longsor Cisarua: 23 Prajurit TNI Dikabarkan Hilang, Pencarian Terkendala Cuaca
Polisi Amankan Empat Pria dan Sita Lebih dari Satu Kilogram Ganja di Tanjung Priok
Begal Panjat Atap Rumah Usai Jambret Kalung di Tambora