Pemerintah Inggris, bisa dibilang, sedang geram. Pemicunya? Komentar terbaru dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa tentara NATO termasuk Inggris tidak bertempur di garis depan Afghanistan. Pernyataan ini langsung memantik reaksi keras dari London.
Menurut sejumlah saksi, komentar itu dilontarkan Trump saat wawancara dengan Fox News, Kamis lalu. Yang bikin kesal, Trump seolah lupa atau tak menyadari satu fakta pahit: 457 tentara Inggris justru gugur dalam pertempuran di Afghanistan. Mereka tewas setelah Amerika Serikat diserang pada 11 September.
"Mereka akan bilang mereka mengirim beberapa pasukan ke Afghanistan," ujar Trump.
"Memang benar, mereka agak di belakang, sedikit di luar garis depan," tambahnya tanpa beban.
Tak cuma itu, ia juga mengulang klaim lamanya bahwa NATO takkan membantu AS jika diperlukan. Klaim yang, bagi banyak diplomat Eropa, terdengar menggelikan.
Nyatanya, situasinya sangat berbeda. Pasca serangan 2001, Inggris dan sekutu-sekutu lain justru langsung bergabung dengan AS di Afghanistan. Mereka datang setelah AS mengaktifkan klausul pertahanan kolektif NATO. Jadi, bukan cuma sekadar "beberapa pasukan" yang dikirim.
Dan korban jiwa pun bukan hanya dari Inggris. Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Denmark dan banyak negara sekutu lainnya juga kehilangan prajuritnya di medan perang yang sama. Mereka bertempur, berdarah-darah, dan banyak yang tidak pulang.
Jadi, komentar Trump ini bukan cuma dianggap salah fakta. Bagi banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya di Afghanistan, pernyataan itu terasa seperti penghinaan. Sebuah pengabaian atas pengorbanan yang sebenarnya terjadi di garis depan.
Artikel Terkait
Penyematan Jaket PSI ke Jokowi Dinilai Sekadar Formalitas Perpisahan dengan PDIP
326 Kepala Sekolah di Sulsel Ancam Mundur Massal Imbas Temuan BPK soal Dana BOS
BPBD DIY: Status Siaga Merapi Bukan Sekadar Label, Ancaman Lava dan Awan Panas Masih Nyata
Polisi Bantah Tabrak Lari, Pengejaran Fortuner di Ciledug Bagian dari Operasi Narkoba