Untuk urusan mandi, mereka harus menumpang pada warga lain yang rumahnya tak kebanjiran. Kalau tidak bisa, terpaksa mencari akal. Mujinten yang sehari-hari berdagang di Pasar Minggu, kadang memilih mandi di fasilitas pasar.
“Kalau mau mandi kita kalau boleh numpang, kalau enggak boleh kita mandi di pasar sono,” ungkapnya.
Sebenarnya ada sebuah masjid tak jauh dari lokasi. Tapi tempat itu kini tertutup untuk pengungsi. Larangan ini muncul bukan tanpa sebab.
“Gini, waktu itu kan waktu tahun berapa itu kan pada ngungsinya di sono di masjid. Berhubung di masjid itu semuanya ada yang jorok, ada yang gimana, berantem apa gimana terus tidak diperbolehin,”
jelas Mujinten. Pengalaman buruk masa lalu membuat akses mereka terhadap tempat yang layak semakin sempit.
Jadilah emperan toko dan jalanan sebagai satu-satunya pilihan. Mereka bertahan di sana, menunggu air Kali Ciliwung benar-benar surut. Tidur di ruang terbuka tentu bukan hal mudah. Dinginnya malam menjadi tantangan, apalagi kalau hujan turun dan airnya menampias ke tempat mereka beristirahat.
“Dingin (kalau malam), apalagi hujan apalagi hujan ya dingin. Kadang-kadang dari situ tampias,” keluhnya.
Lelah fisik jelas terasa. Tidur di atas lantai keras tanpa alas yang memadai menguras tenaga. Tapi apa daya? Mujinten hanya bisa menghela napas.
“Ya gimana nggak capek, ya capek, capek badan, capek tenaga. Diterima (saja), pasrah,” pungkasnya. Suaranya lirih, menyerahkan segalanya pada takdir sambil terus menunggu keadaan membaik.
Artikel Terkait
Satgas Pangan Lubuk Linggau Amankan Mie Berformalin dan Awasi Kenaikan Harga Jelang Lebaran
Iran Klaim Serang Pangkalan AS di Kuwait, Garda Nasional Tembak Jatuh Delapan Drone
Pemerintah Utamakan Keselamatan Jemaah Haji di Tengah Situasi Dinamis Timur Tengah
Rumah Kosong di Bogor Ambruk Usai Hujan Deras, Tak Ada Korban Jiwa