Air masih menggenangi Rawa Buaya, Cengkareng. Sudah berhari-hari, kawasan di Jakarta Barat ini belum juga kering sepenuhnya. Bagi sebagian warga, banjir kali ini benar-benar yang terburuk. Parahnya, ini bukan kejadian satu-satunya. Sepanjang bulan ini saja, mereka sudah berulang kali berhadapan dengan air yang masuk ke rumah.
Saenah, seorang warga berusia 64 tahun, menghela napas. Rumahnya sudah kebanjiran enam kali dalam sebulan terakhir. Ketinggian airnya pun tak menentu, kadang setinggi lutut, kadang bisa mencapai dada orang dewasa.
"Sebulan ini sudah enam kali. Awalnya selutut, paling gede sekarang sampai sedada,"
kata Saenah, Sabtu lalu.
Ia mengaku, banjir yang terjadi saat ini adalah yang paling parah. Air tak cuma menggenangi jalan, tapi sudah merembes masuk ke dalam rumah. Meski begitu, Saenah ogah mengungsi. Ia lebih memilih bertahan di tempat tinggalnya.
"Sekarang yang paling parah. Di dalam rumah airnya sampai selutut. Saya disuruh ngungsi juga nggak mau, mendingan di rumah,"
ujarnya tegas.
Rumah yang ia tempati adalah warisan orang tua. Lihatlah sekeliling, sebagian besar rumah di sana sudah dibangun bertingkat. Itu satu-satunya cara bertahan.
"Kalau nggak tingkat, tenggelam duluan. Barang-barang juga sudah siap, elektronik semua di atas, Alhamdulillah ada loteng,"
jelasnya sambil menunjuk ke atas.
Menurut cerita Saenah, air mulai naik sejak Jumat pagi. Saat itu ia sedang tidur di lantai bawah dan langsung kaget terbangun.
"Lagi tidur di bawah, kaget. Tapi sudah feeling bakal banjir, jadi langsung ngangkatin baju ke atas,"
kenangnya.
Namun begitu, tidak semua warga punya pilihan seperti Saenah. Nur, 68 tahun, memutuskan untuk mengungsi ke masjid terdekat. Air yang naik dengan cepat pada Jumat malam sekitar pukul 11 malam membuatnya tak punya banyak waktu.
"Air naiknya cepat, kurang dari satu jam sudah masuk rumah sebetis. Langsung ngungsi, bawa baju seadanya,"
kata Nur.
Sudah sehari lebih ia tinggal di masjid bersama warga lain. Kondisi rumahnya? Masih terendam, meski air mulai perlahan surut.
"Masih terendam, tapi pelan-pelan surut. Mungkin sore kalau nggak hujan mau pulang buat bersih-bersih,"
ucapnya penuh harap.
Yang membuat warga geram, kawasan ini sebenarnya sempat 'aman' dari banjir besar selama bertahun-tahun. Banjir terakhir yang mereka ingat dengan jelas terjadi pada 2016.
Saenah kembali bersuara, membandingkan kejadian sekarang dengan masa lalu.
"Dulu 2016 juga banjir, tapi nggak separah ini. Ini parah banget,"
katanya.
Di tengau situasi yang serba tak menentu, harapan mereka sederhana. Air cepat surut, dan bantuan terutama makanan, air bersih, dan selimut terus mengalir.
"Harapannya ya cepat surut dan ada bantuan. Tadi pagi baru ada bantuan datang,"
pungkas Saenah, menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Trump Pertimbangkan Kurangi Pasukan AS di Jerman di Tengah Ketegangan dengan Kanselir Merz soal Iran
Kumpulan Kata-Kata Lucu Persahabatan Paling Gokil, Dijamin Bikin Ngakak Bareng
Menjelang 1 Mei 2026, Ini Kumpulan Ucapan Hari Buruh untuk Apresiasi Pekerja
Kemenimipas Serahkan 23 Pegawai ke Polisi dan BNN sejak Akhir 2024