BNPB Tambah Armada Pesawat untuk Tundukkan Hujan Lebat di Jakarta

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 09:00 WIB
BNPB Tambah Armada Pesawat untuk Tundukkan Hujan Lebat di Jakarta

Operasi modifikasi cuaca di Jakarta dan sekitarnya bakal digenjot. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) baru-baru ini menambah armada pesawatnya untuk misi itu. Tadinya cuma dua, sekarang jadi enam pesawat yang siap terbang.

Kepala BNPB, Letjen Suharyanto, menjelaskan alasan di balik penambahan ini. Menurutnya, prediksi BMKG untuk minggu ini dan depan cukup serius: hujan diprakirakan bakal lebat. Makanya, operasi perlu diperkuat.

"Kami tambah perkuatan OMC-nya," ujar Suharyanto, Sabtu lalu.

"Semula hanya dua pesawat satu dari BNPB dan satu dari Pemda DKI menjadi enam pesawat. Empat dari BNPB, satu Pemda DKI, dan satu lagi dari Pemda Jabar. Cakupannya seluruh DKI dan daerah penyangganya," jelasnya.

Di sisi lain, Plt Kapusdatin BNPB Muhari menyebut operasi yang sudah berjalan ini cukup efektif. Evaluasi dari 12 hingga 22 Januari menunjukkan angka keberhasilan rata-rata 48 persen. Tapi, Muhari buru-buru meluruskan pemahaman yang sering keliru soal OMC.

"Efektif, iya. Tapi yang perlu dipahami, OMC ini bukan untuk menghilangkan hujan sama sekali," katanya.

"Tujuannya cuma mengurangi intensitasnya. Yang seharusnya hujan ekstrem, diturunkan jadi hujan lebat. Yang lebat, jadi hujan sedang saja," imbuh Muhari.

Soal teknis, selama sepuluh hari itu mereka sudah menyemai garam sebanyak 32.000 kilogram. Angka yang tidak kecil. Rata-rata, dalam sehari dibutuhkan tiga kali sorti penerbangan untuk membawa bahan semai itu.

"Satu sorti biasanya membawa 1 sampai 1,5 ton garam. Jadi ya, sehari bisa tiga kali penerbangan," ucapnya.

Muhari juga membeberkan strategi teknisnya. Intinya, mereka berusaha 'menghadang' awan-awan cumolonimbus yang bergerak dari Banten menuju Jakarta. Namun, dia menekankan bahwa persoalan banjir di Ibu Kota bukan cuma soal hujan dari langit.

"Kalau bicara banjir di Jakarta, itu bukan hanya masalah hujan," tuturnya.

"Drainase primer, sekunder, sampai yang tersier di Jakarta memang sudah harus direvitalisasi. Itu masalah yang juga mendesak," pungkas Muhari.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar