Seni cadas, dalam hal ini, adalah jendela untuk mengintip pikiran manusia awal. Ia adalah ekspresi identitas, kehadiran sosial, dan bahasa simbolik yang rumit.
"Ini membuktikan bahwa kapasitas kognisi, simbolisme, dan imajinasi tidak hanya berkembang dalam satu kawasan dunia," jelas Fadli Zon. "Melainkan hadir dan bahkan terbukti lebih awal di wilayah kita."
Ada detail unik dari stensil tangan di Liang Metanduno ini: salah satu ujung jarinya tampak sengaja dibentuk meruncing. Ciri serupa hanya ditemukan di Sulawesi. Makna di baliknya masih misteri, tentu saja. Tapi justru di situlah letak daya tarik ilmiahnya ia memicu pertanyaan baru tentang estetika dan ritual di zaman Pleistosen.
Fadli Zon lantas menautkan semua ini dengan narasi besar Indonesia. Sebagai bangsa dengan megadiversity, kita juga adalah rumah bagi salah satu peradaban tertua di dunia.
"Di wilayah kepulauan yang menjadi jembatan peradaban dunia ini, manusia awal terbukti telah mampu berkreasi, menandai ruang, membangun makna," tegasnya. "Kita bukan lagi periferi, melainkan salah satu episentrum peradaban awal manusia."
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi peneliti muda di bidang arkeologi dan antropologi. Mereka dibutuhkan, bukan hanya untuk keahliannya, tapi juga kepekaan terhadap etika dan kerja bersama masyarakat.
Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, punya mandat konstitusional untuk menindaklanjuti temuan sepenting ini. Perlindungan menjadi prioritas utama.
"Kita wajib memastikan warisan sebesar ini terlindungi, dipahami, dan diwariskan," ujar Fadli Zon. "Tindak lanjutnya harus bergerak dari hulu ke hilir. Dari riset ke pelestarian, lalu edukasi publik, hingga pemanfaatan berkelanjutan."
Agenda ke depan sudah disiapkan bersama BRIN, pemda, dan mitra internasional. Mulai dari riset lanjutan, konservasi situs, edukasi, hingga upaya pengakuan sebagai Cagar Budaya Nasional atau Warisan Dunia UNESCO.
Di akhir, Menteri menegaskan kembali bahwa ini adalah kontribusi Indonesia bagi kemanusiaan.
"Jejak tangan berusia setidaknya 67.800 tahun ini adalah pesan lintas zaman," tutupnya. "Tugas kita sekarang adalah melindungi, mempelajari, dan membina warisan ini dengan penuh tanggung jawab."
Artikel Terkait
Waspada Banjir di Jakarta? Semua Info Pentingnya Kini Ada di Genggaman Lewat JAKI
Ciledug Terendam, Warga Komplek Puri Kartika Baru Berjuang di Tengah Arus Seleher Dewasa
Gedung Mewah Rp 28 M, Siswa SMP di Depok Malah Belajar Lesehan
Prabowo Buka Suara di Davos, Paparkan Efisiensi APBN dan Makanan Bergizi Gratis