Trenggono Serukan Aksi Kolektif di Davos: Laut Indonesia dalam Ancaman Serius

- Kamis, 22 Januari 2026 | 21:25 WIB
Trenggono Serukan Aksi Kolektif di Davos: Laut Indonesia dalam Ancaman Serius

Laut kita sedang tidak baik-baik saja. Ancaman datang dari berbagai penjuru, mulai dari perubahan iklim yang tak terbendung, pencemaran, sampai praktik penangkapan ikan ilegal yang merajalela. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, dengan tegas menyuarakan keprihatinan ini. Ia mengingatkan, pemulihan ekosistem laut butuh aksi kolektif, dan itu harus segera dilakukan.

“Lautan kita menghadapi ancaman serius, pemanasan laut, meningkatnya keasaman, menurunnya stok ikan, dan pencemaran laut,” ujar Trenggono.

“Lautan kita memanggil kita semua untuk bertindak bersama menyelamatkan, dan mengelolanya dengan tanggung jawab.”

Pernyataan tertulisnya itu disampaikan Kamis lalu, menegaskan kembali pidatonya di ajang World Economic Forum di Davos, Swiss. Saat itu, ia berbicara dalam sesi bertajuk Velocity of the Blue Economy, Selasa (22/1).

Bagi Indonesia, laut adalah segalanya. Ia adalah sejarah, identitas, sekaligus masa depan. Karena itulah, Trenggono menegaskan kesiapan Indonesia untuk memimpin upaya perlindungan laut lewat program-program Ekonomi Biru. Tapi jalan ini mustahil ditempuh sendirian. Kolaborasi cepat antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat mutlak diperlukan.

Lalu, apa yang sudah dilakukan? Upayanya cukup konkret. Kawasan konservasi laut terus diperluas saat ini sudah lebih dari 30 juta hektar, dengan target ambisius 97,5 juta hektar pada 2045. Penangkapan ikan akan diatur ketat dengan sistem kuota, guna memangkas praktik overfishing dan illegal fishing. Di sektor budidaya, inovasi berkelanjutan digenjot, bukan cuma untuk kesejahteraan masyarakat tapi juga ketahanan pangan.

Tak lupa, kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dijaga dari aktivitas ekonomi yang berpotensi merusak. Soal sampah laut? Penanganannya diintegrasikan, dari darat hingga ke lautan lepas.


Halaman:

Komentar