Laut kita sedang tidak baik-baik saja. Ancaman datang dari berbagai penjuru, mulai dari perubahan iklim yang tak terbendung, pencemaran, sampai praktik penangkapan ikan ilegal yang merajalela. Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, dengan tegas menyuarakan keprihatinan ini. Ia mengingatkan, pemulihan ekosistem laut butuh aksi kolektif, dan itu harus segera dilakukan.
“Lautan kita menghadapi ancaman serius, pemanasan laut, meningkatnya keasaman, menurunnya stok ikan, dan pencemaran laut,” ujar Trenggono.
“Lautan kita memanggil kita semua untuk bertindak bersama menyelamatkan, dan mengelolanya dengan tanggung jawab.”
Pernyataan tertulisnya itu disampaikan Kamis lalu, menegaskan kembali pidatonya di ajang World Economic Forum di Davos, Swiss. Saat itu, ia berbicara dalam sesi bertajuk Velocity of the Blue Economy, Selasa (22/1).
Bagi Indonesia, laut adalah segalanya. Ia adalah sejarah, identitas, sekaligus masa depan. Karena itulah, Trenggono menegaskan kesiapan Indonesia untuk memimpin upaya perlindungan laut lewat program-program Ekonomi Biru. Tapi jalan ini mustahil ditempuh sendirian. Kolaborasi cepat antara pemerintah, pelaku bisnis, dan masyarakat mutlak diperlukan.
Lalu, apa yang sudah dilakukan? Upayanya cukup konkret. Kawasan konservasi laut terus diperluas saat ini sudah lebih dari 30 juta hektar, dengan target ambisius 97,5 juta hektar pada 2045. Penangkapan ikan akan diatur ketat dengan sistem kuota, guna memangkas praktik overfishing dan illegal fishing. Di sektor budidaya, inovasi berkelanjutan digenjot, bukan cuma untuk kesejahteraan masyarakat tapi juga ketahanan pangan.
Tak lupa, kawasan pesisir dan pulau-pulau kecil dijaga dari aktivitas ekonomi yang berpotensi merusak. Soal sampah laut? Penanganannya diintegrasikan, dari darat hingga ke lautan lepas.
“Indonesia memiliki salah satu cadangan karbon biru terbesar di dunia, menyimpan sekitar 17 persen karbon biru global,” papar Trenggono.
Ekosistem pesisir itu, menurutnya, adalah penyerap karbon kunci yang berperan besar mengatur iklim global dan menjaga kesehatan laut.
Pembicara lain dalam forum tersebut, European Commissioner for Sustainable Transport and Tourism, Apostolos Tzitzikostas, punya sudut pandang lain. Baginya, ekonomi biru bukan cuma soal ekonomi semata.
“Ini juga tentang daya saing dan keamanan,” katanya.
Uni Eropa sendiri mendorong penggunaan bahan bakar alternatif di sektor maritim untuk kurangi jejak karbon. Mereka sedang menyiapkan sebuah strategi komprehensif untuk pelabuhan dan sektor maritim yang diharapkan bisa menjawab tantangan ini.
Ada satu kabar penting lain yang diumumkan Trenggono di forum bergengsi itu: Indonesia akan menjadi tuan rumah Ocean Impact Summit 2026. Pertemuan global itu rencananya digelar di Bali pada Juni mendatang, menghadirkan para pemimpin dunia, pebisnis, dan ahli untuk merancang aksi nyata tata kelola laut yang berkelanjutan.
Isu kelautan memang jadi salah satu fokus utama WEF tahun ini. Itu terlihat dari inisiatif Blue Davos dan penetapan 2026 sebagai Year of Water sebuah upaya terpadu untuk mengelola laut dan perairan tawar guna menjaga stabilitas ekonomi dan ketahanan iklim.
Artikel Terkait
Menteri Pertahanan Mali Tewas dalam Serangan Terkoordinasi Kelompok Afiliasi Al-Qaeda
Brimob dan Damkar Padamkan Sisa Api di Rumah Sekaligus Warung Kopi yang Terbakar di Jatinegara Kaum
Polisi Tangkap Dua Pelaku Pengeroyokan Anggota TNI di Stasiun Depok, Satu Masih Buron
Dua PRT Nekat Lompat dari Lantai 4 Kos Majikan di Jakarta Pusat, Satu Tewas; Polisi Selidiki Dugaan Penyekapan dan TPPO