Dari jumlah itu, rinciannya begini: sebanyak 2.427 orang di antaranya termasuk anggota pasukan keamanan dikategorikan sebagai “martir” dalam ajaran Islam. Mereka juga disebut sebagai korban “tidak bersalah” dalam pernyataan tersebut.
Lalu, siapa 690 orang lainnya?
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Iran, Ali Akbar Pourjamshidian, memberikan penjelasan gamblang ke televisi pemerintah.
“Sebanyak 690 orang yang tidak termasuk di antara para martir adalah teroris, perusuh, dan mereka yang menyerang situs-situs militer,” ujarnya.
Dua kubu, dua versi cerita yang sama sekali berbeda. Di satu sisi, pemerintah bicara tentang martir dan teroris. Di sisi lain, dunia internasional dan aktivis mendengar jeritan keluarga yang kehilangan anak muda mereka di jalanan. Kebenaran mungkin ada di tengah, atau justru tersembunyi di balik kesunyian pasca-pemadaman internet itu.
Artikel Terkait
AS Peringatkan Warga Sipil, Iran Serang Kapal Dagang di Selat Hormuz yang Ditutup Total
Polri dan Jurnalis Bagikan 100 Paket Sembako untuk Anak Yatim dan Dhuafa di Jakarta Barat
Iran Balas Serangan AS, Kapal Kargo Diserang di Selat Hormuz
F-PKB MPR Gelar Peringatan Nuzulul Quran dan Santunan Anak Yatim