tegas Andre.
Ia menambahkan, huntara ini bukan cuma soal atap dan dinding. Tapi juga kualitas hidup. Fasilitas sosial yang disiapkan punya peran penting untuk pemulihan psikososial warga pascabencana. Di sisi lain, Komisi VI akan terus mengawal. Masih dibutuhkan sekitar 500 unit lagi untuk beberapa kabupaten seperti Agam, Padang Pariaman, Tanah Datar, dan Lima Puluh Kota.
Managing Director Danantara, Rohan Hafas, memberi gambaran lebih luas. Secara nasional, mereka bersama BUMN sudah membangun 1.275 unit huntara. Yang terbesar di Aceh Tamiang, mencapai 600 unit dalam satu kawasan. "Untuk Sumbar, kami akan lanjutkan sesuai kebutuhan dan mulai bahas rencana hunian tetap," jelas Rohan.
Apresiasi juga datang dari anggota Komisi VI, Kawendra Lukistian. Baginya, ini proyek fisik sekaligus pemulihan harapan. Kecepatan pengerjaan delapan hari itu ia sebut sebagai standar baru BUMN yang responsif. "Yang paling penting sisi kemanusiaannya. Warga dapat rumah, juga ruang untuk bersosialisasi," ujar Kawendra.
Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, turut menyoroti sinergi yang terjalin. Menurutnya, huntara ini memberi lebih dari sekadar tempat berteduh. Tapi juga rasa aman, nyaman, dan perhatian pada kondisi psikologis korban. Ia berharap pembangunan di Agam dan Tanah Datar segera tuntas dengan kualitas sama.
Kunjungan itu sendiri diikuti anggota dari berbagai fraksi. Hadir pula Wakil Gubernur, Bupati, serta jajaran BUMN pelaksana. Secara keseluruhan, kunjungan ini bukan sekadar ritual pengawasan. Tapi bukti konkret kolaborasi negara untuk solusi yang cepat, layak, dan manusiawi bagi mereka yang terdampak.
Artikel Terkait
CEO Indodax Laporkan Akun Medsos Anonim ke Polda Metro Jaya
Supertanker MT Arman 114 Dilelang Rp 1,1 Triliun Setelah Gagal Laku
LAM Riau Dukung Penetapan 23 Februari sebagai Hari Ekosistem
Bekasi Masih Terendam, Sembilan Titik Genangan Belum Surut