Hari keenam. Operasi pencarian dan pertolongan untuk pesawat ATR 42-500 PK-THT yang jatuh di lereng Gunung Bulusaraung, Pangkep, Sulawesi Selatan, masih terus berlangsung. Kali ini, fokus utama tim adalah menemukan para korban.
Udara pagi di Desa Tompobulu masih dingin ketika tim SAR gabungan berkumpul. Sekitar pukul 08 pagi waktu setempat, mereka apel di halaman Masjid Darussalam sebelum kembali diterjunkan. Kerumunan itu terdiri dari banyak unsur: TNI, Polri, Basarnas, ditambah relawan dari Mapala, PMI, dan tak ketinggalan warga lokal yang turun tangan.
Asisten Operasi Kodam XIV Hasanuddin, Kolonel Inf Dody Triyo Hadi, memberikan pengarahan terakhir. Dia menekankan soal pentingnya GPS. "Aktifkan selalu," pesannya. Untuk temuan benda kecil, langsung dibawa. Kalau menemukan benda besar, cukup beri tanda dulu untuk nanti dievakuasi.
"Beri tanda, aktifkan GPS kalian kemudian informasikan. Biar kita floating di posko, jadi lebih mudah mengarahkan tim terdekat ke lokasi temuan," ujar Dody.
Poin penting lain yang ditegaskannya adalah soal prosedur jika menemukan korban jiwa. Tim pencari diminta tidak langsung fokus mengevakuasi. Tugas utama adalah memberi tanda dan melanjutkan pencarian.
"Jangan fokus mengevakuasi dulu. Kalau itu bagian tubuh seperti tangan atau kaki, dan ukurannya masih bisa dibawa, masukkan ke plastik, lalu ke tas. Tapi kalau itu jenazah utuh, jangan dipaksakan. Laporkan saja, biar tim khusus yang menanganinya," tegasnya lagi.
Di sisi lain, Kasi Ops Basarnas Makassar, Andi Sultan, menjelaskan bahwa area pencarian kini diperluas. Meski masih berkonsentrasi di lereng Bulusaraung, tim diarahkan ke spot-spot yang belum terjamah, meski di sana-sini sudah banyak ditemukan serpihan pesawat.
"Kita fokuskan di lereng gunung itu. Tapi sekarang, kita sisir daerah-daerah yang benar-benar belum terjangkau seratus persen," kata Andi Sultan kepada awak media.
Suasana di lokasi tetap tegang, namun semangat para pencari tak kendur. Mereka menyusuri medan terjal dengan harapan satu: menemukan sisa-sisa yang hilang.
Artikel Terkait
90% Situs Warisan Alam Dunia China Raih Penilaian Baik, Lampaui Rata-rata Global
Mantan Suami Bakar Mantan Istri di Angkringan Kotawaringin Barat, Cemburu Jadi Motif
Dishub Siapkan Enam Kantong Parkir Antisipasi Kemacetan Jakarta Fair 2026
Menteri Wihaji: Pahami Bahasa Kasih dan Karakter untuk Jaga Harmoni Keluarga di Era Digital