"Ternyata si R ini mempunyai rencana mau ngajak si C, itu di tahun baru kemarin mau dibawa kemana gitu, terus mau dibius. Ya kan, mau dibius dengan tujuan pasti kita tahulah arahnya," lanjut H, suaranya terdengar berat.
Mendengar kabar itu, C pun langsung menanyakan kebenarannya kepada R. Tapi jawaban yang didapat justru menggelitik. R hanya mengaku sedang bercanda.
"Anak saya ketika dengar gosip itu langsung tanya, 'kamu kemarin ngajakin ke aku tahun baruan tuh mau ngebius?' Terus dia (R) bilang, 'iya, tapi aku cuma bercanda kok,' gitu. Cuma bercanda, gini gini gini. Semua selalu berdalihnya bercanda," katanya.
Namun begitu, dalih "cuma bercanda" itu tak bisa meredam kegelisahan. Trauma yang diderita C nyata adanya. Dari sini, kasus yang awalnya seperti kabar burung pun mulai terbuka. Orang tua korban tak mau tinggal diam. Mereka tak hanya menuntut penyelesaian di sekolah, tapi juga bersiap melangkah lebih jauh. Ranah hukum menjadi opsi berikutnya, karena pelecehan dan ancaman semacam ini jelas bukan lagi perkara candaan anak sekolah.
Artikel Terkait
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing
Krisis Timur Tengah Picu Ancaman dan Peluang bagi Ekonomi Indonesia
Andakara Prastawa Pimpin Tim Merah IBL All-Star 2026, Susun Skuad Campur Senior dan Muda
Jakarta Dipastikan Jadi Tuan Rumah FIA Rallycross World Cup Perdana pada 2026