"Saya berharap GNSTA tidak berhenti sebagai slogan saja. Marilah kita jadikan GNSTA sebagai pondasi untuk membangun MPR RI yang semakin modern, profesional, dan berwibawa,"
paparnya.
Di sisi lain, dari segi teknis, targetnya sudah dipatok. Kepala Biro SDM, Organisasi, dan Hukum, Dyastasita WB, memaparkan bahwa Renstra 2025-2029 sudah memasukkan target kinerja kearsipan. Angkanya cukup spesifik. Misalnya, tingkat digitalisasi arsip ditargetkan 87 di tahun 2026, lalu naik jadi 91,50 di 2029. Nilai pengawasan kearsipan juga dikejar, dari 74,16 menjadi 80,21 dalam periode yang sama.
"Target-target tersebut merupakan komitmen bersama tim kearsipan MPR RI yang akan dicapai melalui tahapan dan milestone setiap tahunnya,"
jelas Dyastasita.
Acara ini juga dihadiri oleh Kepala ANRI, Mego Pinandito. Ia menegaskan pentingnya kolaborasi antara ANRI dan MPR RI dalam mengelola arsip konstitusi. Baginya, MPR punya peran fundamental sebagai penjaga nilai dasar bangsa. Karena itu, pengelolaan arsip yang profesional dan terdigitalisasi adalah kunci untuk menjaga demokrasi kita tetap pada jalurnya.
"Menjaga arsip konstitusi sama artinya dengan menjaga arah perjalanan bangsa. Apa yang kita kelola hari ini akan menjadi rujukan penting bagi generasi selanjutnya,"
pungkas Mego.
Acara pencanangan itu sendiri dihadiri oleh sejumlah pejabat tinggi. Tampak hadir Deputi-Deputi di lingkungan Setjen MPR RI, perwakilan ANRI, serta para pejabat struktural dan fungsional. Mereka semua berkumpul, mungkin untuk mengingat satu hal sederhana: bahwa sejarah bangsa tak hanya ditulis, tapi juga harus disimpan dengan baik.
Artikel Terkait
Wali Kota Pekanbaru Keluarkan Larangan Tegas: Tebang Pohon Besar Tanpa Izin Dilarang
Tarif Jabatan Desa Melonjak, Bupati Pati Dijerat KPK
Wali Kota Madiun Tersangka KPK, Diduga Terima Gratifikasi Rp 1,3 Miliar dari Proyek
Dubalang dan Adat Jadi Penjaga Kunci Legalisasi Tambang Rakyat Kuansing