tutur Taryana lagi.
Dia sempat tak menyerah. Pertolongan pertama berupa RJP atau kompresi dada dilakukan selama hampir 10 menit. Hasilnya nihil. Tim ambulans yang kemudian tiba hanya bisa memastikan hal yang paling buruk: korban telah meninggal dunia. Jenazahnya lalu dipulangkan ke keluarga sesuai permintaan.
Yang menarik, korban sebenarnya bisa berenang. Tapi ada dugaan kuat bahwa saat kejadian, kondisi fisiknya sedang tidak prima. “Kemungkinan besar karena korban kurang sehat sehingga korban tenggelam,” jelas Taryana. Ini jadi pelajaran pahit betapa banjir bisa sangat berbahaya, bahkan bagi yang merasa mampu berenang sekalipun.
Banjir di Bojongsari sendiri dipicu oleh luapan dua sungai: Citarum dan Cibeet. Pihak kecamatan pun mengeluarkan imbauan keras.
“Kita imbau masyarakat untuk untuk tetap waspada dan menghindari aktivitas di area banjir demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,”
tegas Camat Kedungwaringin, Maman Badruzaman.
Imbauan itu jelas bukan tanpa alasan. Nyawa seorang remaja telah menjadi taruhannya.
Artikel Terkait
Menteri PU Dukung Penyelidikan Proyek Cipta Karya di Sumut dan DKI
DPR Desak Penanganan Terpadu Kasus Investasi Bodong Koperasi BLN yang Rugikan 44 Ribu Korban
Chief Officer Kapal Divonis Seumur Hidup atas Kasus 1,9 Ton Sabu
BNPB Jalankan Modifikasi Cuaca di Jabodetabek Antisipasi Dampak Bibit Siklon