Malam Senin (19/1/2025) itu, suasana di Polda Jambi cukup ramai. Siswa berinisial MLF (16) datang, didampingi sang ayah dan kuasa hukumnya. Mereka langsung menuju SPKT. Ternyata, keluarga siswa ini tak hanya hadir, tapi juga membawa laporan resmi terkait dugaan penganiayaan. Ini adalah babak baru dari kasus adu jotos antara MLF dengan guru SMK Negeri 3 di Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
Menurut Dian Burlian, kuasa hukum keluarga, langkah ini diambil setelah upaya damai mentok. Pihaknya sebenarnya menginginkan penyelesaian lewat restorative justice. Tapi, niat itu sepertinya tak mendapat respons.
"Kita sudah tunggu tiga hari, tidak ada penyelesaian yang konkret. Dari oknum guru tersebut juga tidak mau, bahkan sudah lebih dulu membuat laporan. Akhirnya, kita ambil langkah hukum juga," ujar Dian, saat ditemui di lokasi.
Sebelum laporan resmi ke Polda, ternyata sudah ada upaya dari kakak MLF. Dia mendatangi Polsek Berbak. Hanya saja, waktu itu belum sampai ke tahap laporan formal. Kapolsek hanya mencatat kejadiannya dan berjanji akan menyelesaikan.
Nah, dalam laporannya kali ini, keluarga siswa merinci tiga sesi kejadian. Poin utamanya adalah soal pemicu. Guru menyebut si siswa berteriak dengan kata-kata tak pantas. Namun, versi MLF berbeda sama sekali.
"Dia teriak 'woi diamlah jangan ribut' itu kepada teman-temannya, bukan kepada guru. Kebetulan guru ada di ruangan yang sama. Lalu sang guru menanyakan siapa yang bilang 'woi'. Karena merasa tidak salah, MLF maju. Dan begitu maju, langsung dipukul," jelas Dian Burlian, menggambarkan kronologi yang dilaporkan.
Dengan dilaporkannya kembali kasus ini ke tingkat Polda, proses hukum tampaknya akan berjalan lebih formal. Kedua belah pihak kini sama-sama telah melaporkan satu sama lain, mengubah insiden di sekolah menjadi perkara hukum yang serius.
Artikel Terkait
Jakarta dan Shenzhen Sepakat Jalin Kerja Sama Kota Kembar
Kemenperin Musnahkan Ribuan Alat Pemadam Api Tanpa Sertifikat SNI
Ketua Parlemen Iran: Blokade AS Hambat Pembukaan Kembali Selat Hormuz
Survei: 84,6% Publik Puas dengan Kinerja Prabowo, Harga Sembako Masih Jadi Keluhan