Memang, Nigeria seperti terbelah. Selatan mayoritas Kristen, utara didominasi Muslim. Tapi konflik di sana ruwet. Para ahli mencatat, korban berjatuhan dari kedua belah pihak, seringkali tanpa pandang bulu. Kekerasan jadi bahasa yang sama bagi semua.
Ingat kasus November lalu? Lebih dari 300 siswa dan guru dari sebuah sekolah Katolik di negara bagian Niger disandera geng bersenjata. Mereka baru dibebaskan beberapa minggu kemudian, itupun dalam dua gelombang. Rupanya, pola itu berulang.
Di sisi lain, situasi ini menarik perhatian dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump, misalnya, kerap menyoroti ketidakamanan di Nigeria. Fokusnya banyak pada pembunuhan umat Kristen, yang kemudian ia jadikan alat tekanan diplomatik terhadap pemerintah di Abuja.
Tak lama berselang, pada akhir Desember, AS bahkan melancarkan serangan di negara bagian Sokoto, barat laut Nigeria. Targetnya, menurut klaim AS dan pemerintah Nigeria, adalah militan yang dikaitkan dengan kelompok Negara Islam.
Jadi, serangan di Kaduna ini bukan insiden yang berdiri sendiri. Ia adalah potret dari lingkaran kekerasan yang kompleks, dimana warga sipil dari agama apapun selalu jadi yang paling menderita.
Artikel Terkait
Bupati Pati Diamankan KPK, Dini Hari Dibawa ke Semarang
Ibu Cari Rumput di Waduk Tarakan Diserang Buaya, Diselamatkan Polisi
Pemuda 25 Tahun Tewas Usai Pesta Miras Dua Lokasi di Langkat
Pemberontakan di Pringsewu Berujung Tewasnya Pencuri Sapi