Suasana khidmat peringatan Isra Mikraj di sebuah desa di Banyuwangi tiba-tiba berubah. Panggung yang sebelumnya dipenuhi lantunan religi, mendadak ramai oleh goyangan seorang biduan. Aksi itu, yang direkam dan tersebar luas, langsung memantik gelombang kecaman.
Tak butuh waktu lama, suara protes resmi pun muncul dari pengurus tingkat pusat Nahdlatul Ulama. Mereka secara tegas mengkritik penyelenggaraan hiburan semacam itu, yang dinilai tak pantas digelar usai acara sakral.
Ketua Bidang Keagamaan PBNU, Ahmad Fahrur Rozi, dengan jelas menyatakan pendirian organisasinya.
"Meski acara utamanya sudah beres, hiburan dengan joget begitu tetap tidak pantas. Ini masuk dalam kategori maksiat dan harus kita cegah," ujarnya kepada awak media pada Senin lalu.
Rozi lantas mengingatkan agar masyarakat Muslim lebih berhati-hati. Menurutnya, setiap pentas hiburan wajib menaati koridor hukum agama. Utamanya soal kesopanan dan menutup aurat.
"Di sisi lain, dalam konteks acara keagamaan, jogetan model begini jelas sebuah kemungkaran," tegasnya. "Dulu, KH Hasyim Asy'ari sendiri sebagai pendiri NU sudah pernah mengecam keras hal-hal semacam ini."
Gelombang kritik itu akhirnya sampai ke telinga panitia setempat. Menanggapi heboh tersebut, Ketua Panitia Isra Mikraj Desa Parangharjo, Hadiyanto, akhirnya buka suara.
Dia mengakui bahwa hiburan tersebut memang ada. Namun begitu, Hadiyanto berusaha meluruskan waktu kejadiannya. Menurut penjelasannya, aksi panggung itu baru dimulai setelah seluruh rangkaian acara inti benar-benar usai.
Artikel Terkait
Praka TNI Gugur Akibat Serangan Israel di Lebanon, Komisi I DPR Desak Pemerintah Perketat Keamanan Pasukan Perdamaian
DPR Minta Debt Collector yang Manipulasi Layanan Ambulans dan Damkar untuk Tagih Utang Dipidanakan
Damkar Semarang Laporkan Debt Collector ke Polisi Usai Laporan Kebakaran Palsu
Empat Prajurit TNI Gugur dalam Dua Serangan Berturut-turut di Lebanon Selatan