"Kami tidak serta merta membantah orang-orang mengaksesnya, tetapi kami tidak dapat mentolerir kejadian di mana orang-orang menggunakan kediamannya untuk berkumpul dan memicu kekerasan,"
jelas Rusoke kepada para wartawan. Pengerahan pasukan besar-besaran memang terlihat di sekitar Kampala. Uganda tampak tak ingin mengambil risiko, berusaha mencegah gelombang protes yang sempat melanda Kenya dan Tanzania tetangganya.
Kembali ke Museveni, kemenangan ini memastikan kekuasaannya akan mencapai empat dekade. Bagi sebagian rakyat Uganda, dialah sosok yang membawa stabilitas setelah era kekacauan pasca-kemerdekaan, sekaligus motor pertumbuhan ekonomi. Meski, tentu saja, gemerlap pertumbuhan itu kerap dikaburkan sederet skandal korupsi besar yang tak pernah benar-benar tuntas.
Di lapangan kriket Kampala, euforia pendukungnya masih terasa. Seperti yang diungkapkan Isaac Kamba, seorang guru berusia 37 tahun.
"Saya sangat senang melihat dia menang. Kemenangan ini diraih berkat kerja keras, dedikasi, dan komitmennya kepada rakyat Uganda,"
katanya penuh keyakinan. Sementara bagi yang lain, kemenangan ini adalah babak baru dari sebuah rezim yang sudah sangat, sangat lama.
Artikel Terkait
Andre Rosiade Tegaskan: Penertiban Tambang Ilegal Bukan Hentikan Nafkah, Tujuannya Kembalikan Hak Warga
Gerakan Rakyat Resmi Deklarasi Partai, Usung Anies Baswedan
Trump Kembali Panaskan Ambisi Greenland, Ancaman Tarif Menggantung
Pak Ferry, Tetangga yang Baik Hati Itu, Jadi Korban Pesawat Jatuh di Pangkep