Bayi Perempuan Ditemukan Tewas di Empang Bogor, Awalnya Dikira Boneka

- Minggu, 18 Januari 2026 | 16:05 WIB
Bayi Perempuan Ditemukan Tewas di Empang Bogor, Awalnya Dikira Boneka

Sebuah pemandangan yang tak biasa mengagetkan seorang pencari udang di sebuah empang di Tajurhalang, Bogor. Awalnya, ia mengira benda yang mengambang di air keruh itu hanyalah boneka yang dibuang. Tapi setelah didekati, kenyataan yang terungkap jauh lebih tragis: itu adalah jasad seorang bayi perempuan.

Kapolsek Tajurhalang, Iptu Raden Suwito, mengonfirmasi temuan mengerikan itu pada Minggu (18/1/2026). Menurutnya, saksi langsung melaporkan kejadian tersebut.

"Kronologinya, ada warga yang mau cari udang di empang. Begitu sampai di lokasi, dia lihat sesuatu yang bentuknya mirip boneka," jelas Suwito.

"Ternyata, setelah dicek lebih dekat, itu adalah jasad bayi."

Laporan dari warga itu pun langsung berjenjang, dari ketua lingkungan sampai ke Bhabinkamtibmas dan Polsek. Tim langsung bergerak untuk mengolah TKP. Di sekitar lokasi, mereka menemukan barang-barang yang menyayat hati: sebuah baju bayi dan sebuah botol susu. Jasad bayi itu sendiri masih mengenakan popok dan kaos ketika ditemukan.

"Kondisinya masih lengkap, pakai pampers dan kaos. Lalu di sekitarnya kami temukan baju dan botol susu," ujar Suwito memaparkan.

Namun begitu, misteri masih menyelimuti kasus ini. Siapa identitas bayi malang itu? Apa yang menyebabkan kematiannya?

"Untuk identitas, kita belum dapatkan. Sekarang prioritasnya autopsi dulu," imbuh Kapolsek.

"Kita harus tahu penyebab kematiannya. Juga, bagaimana bisa jasadnya ada di kolam empang itu. Semua masih kita selidiki."

Dari pemeriksaan sementara, bayi perempuan itu diperkirakan baru berusia sekitar 4 sampai 7 bulan. Laporan pertama dari warga masuk sekitar pukul sembilan pagi. Bayi itu ditemukan mengambang di empang yang letaknya tak jauh dari kawasan permukiman.

Suasana di lokasi pun tentu saja mencekam. Temuan yang seharusnya tak pernah terjadi ini kini menjadi pekerjaan rumah bagi aparat kepolisian setempat untuk mengungkapnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar